Tampar Warganya, Kepala Desa di Kepsul Ini Dipolisikan

oleh -Views : 259
Arisman Umanailo Kepala Desa Waikafia

SANANA, terbitan.com – Arisman Umanailo, seorang oknum kepala desa (kades) di desa Waikafia Kecamatan Mangoli Selatan, Kabupaten Kepulauan Sula(Kepsul) dilaporkan warganya ke aparat kepolisian karena diduga telah menganiaya warga desa yang dipimpinnya.

Ratman Ruslan, sebagai korban menjelaskan dirinya saat itu bersama 26 orang warga telah melakukan aksi protes terkait proses pekerjaan pembagunan gedung pemuda yang menggunakan Anggaran Dana Desa (ADD) 2018 senilai Rp. 500 juta lebih sudah tiga bulan tidak ada aktifitas pekerjaan. Semestinya pekerjaan pembangunan itu seharusnya sudah selesai sesuai dengan waktu pelaksanaan 120 hari, “tutur Ratman

Lanjutnya Ratman, Akhirnya dia bersama sejumlah warga langsung melakukan pemelangan gedung Pemuda dengan tujuan agar oknum kepala desa bisa membuat pertemuan dengan masyarakat.”

Kata Ratman, Kami hanya palang di pintu depan bangunan, seusai di palang kami langsung pulang, tiba – tiba kepala desa ikut saya ke rumah dan langsung menggampar saya dan mengatakan saya sebenarnya sudah lama dendam sama kamu,” katanya.

Ratman juga menambahkan, dirinya telah berhentikan dari badan sarah mesjid karena mengingat ayahnya tidak ada di desa. Makanya dirinya menggantikan ayahnya sebagai badan sarah dan diangkat langsung, “Entah kenapa dirinya di berhentikan oleh kepala desa.” Saya tidak tau masalahnya apa sehingga di pecat begitu saja oleh kepala desa,” jelasnya.

Kemudian oknum Kepala Desa Waikafia, Arisman Umanailo, ketika di temui oleh awak media, Minggu(14/07) di kantor Polres Kepulauan Sula. Dia mengaku, bahwa dirinya memang memukul warganya Ratman Ruslan hanya saja, kata kades dia sebatas menampar dan hal itu sebagai ajaran buat warganya.

Dirinya mengambil langkah itu, sebab warganya tidak melakukan koordinasi dengan dirinya, seharusnya warga melapor dulu ke ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) barulah nanti BPD memanggil dirinya untuk membuat rapat bersama masyarakatnya. Akan tetapi yang ada justru mereka langsung melakukan pemelangan, ” Saya pikir mereka mengambil langkah protes sehingga membuat pemelangan itu sudah salah. Kenapa tidak, karena mereka hanya masyarakat bukan sebagai pekerja bangunan tersebut, jadi kenapa harus mereka berani palang,” jelasnya.

Arisman juga membantah pernyataan korban yang mengatakan dirinya telah dendam korban untuk memukul. Kata dia pada saat itu dirinya menemui korban dalam keadaan sadar.” Tidak benar kalau dia katakan bahwa saya dendam korban sudah lama untuk memukulnya.

Tambah Arisman. Setalah dari pemeriksaan dari pihak kepolisian dirinya mencoba untuk meminta perdamaian. Namun, pihak korban tidak mau membuat perdamaian. Korban meminta tetap menindak lanjuti.

Sementara itu, Kanet Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Kepulauan Sula, Bripka Ridwan Buamona melalui Brigpol Hasan Duwila ketika dikonfirmasi diruangan SPKT siang tadi Minggu (14/07) membenarkan adanya laporan penganiyaaan tersebut. Namun kepolisan menyarankan agar kasus ini diselesaikan secara kekeluargaan.

“Kami akan melakukan konfirmasi dulu sama Kadesnya. Kalau bisa diselesaikan di desa secara kekeluargaan nanti kami lakukan mediasi,” ujar Brigpol Hasan {GNS}