Bisnis Barang Rongsokan di Kresek Makin Menjamur

TANGERANG, terbitan.com – Warga yang tinggal di wilayah Kresek Kabupaten Tangerang makin banyak yang berbisnis barang rongsokan. Hal ini disebabkan banyaknya pabrik pengolah barang bekas di sekitar Kresek yang siap menampung barang limbah yang dikumpulkan warga.

H. Ahmad (55), seorang pengepul barang bekas mengaku dulunya dia adalah pekerja kantoran di Jakarta. Tapi sejak dua tahun lalu, Ahmad mengundurkan diri dan memilih menjadi pengepul rongsokan.

Bacaan Lainnya

Untuk menjalankan usahanya, dia dibantu 7 karyawan. Tapi di luar itu dia punya tenaga lepas yang membantunya mengumpulkan rongsokan dari rumah-rumah warga. “Fokus kami memang menampuh barang rongsokan rumah tangga seperti plastik, kardus, kertas, dan barang elektronik tidak terpakai,” ujarnya.

Barang-barang itu tidak diolah sendiri. Dia hanya melakukan pengepresan untuk selanjutnya dijual ke pabrik-pabrik penampung yang banyak tersebar di Tangerang.

Meski tidak mau menyebut angka pasti hasil yang diperoleh, tapi dia mengatakan keuntungan yang didapatkan melebihi jumlah gajinya saat masih bekerja di Jakarta.

Menurut Ahmad, harga barang bekas variatif. Meski sama-sama plastik tapi harganya bisa berbeda. Seperti harga gelas bekas plastik air mineral Rp 8000/ Kg. Tapi harga botol plastik bekas adalah Rp 2.200/kg. “Itu belum termasuk plastik jenis lain harganya juga beda,” jelasnya.

Begitu juga dengan kertas. Untik buku bekas hanya Rp 1.800 per kg. Tapi kardus bekas dan kertas koran bisa mencapai Rp2 ribu per kg. “Kertas semen lebih mahal lagi sampai Rp.2.700 per kilogramnya,” tambah Ahmad.

Warga Kresek lainnya yang menekuni usaha limbah rongsokan adalah Dawi (60). Dalam menjalankan usahanya dia punya cara tersendiri yakni dengan memodali sejumlah orang untul berkeliling mencari barang bekas. Lalu hasilnya disetorkan kepadanya.

“Dengan cara ini mereka bersemangat mencari barang bekas karena punya modal untuk membeli barang milik warga,” tuturnya. Saat ini dirinya hanya fokus 3 jenis barang yang ditampung yakni kertas, kardus dan plastik.

Alasannya, selain mudah dicari, pengepresannya juga tidak sulit dan banyak pabrik yang mau menampung. Kini dengan usahanya yang hanya berawal dari modal Rp.10 juta, dia sudah bisa membeli mesin pengepres dan membeli kendaraan operasional. Selain itu mampu menggaji 10 karyawan.

Pos terkait