Program Pamsimas Gagal, Kades Botolinggo Minta Pertanggungjawaban KKM

BONDOWOSO, Terbitan.com – Masyarakat Desa Botolinggo terpaksa harus memupus harapan untuk mendapatkan air bersih. Sebab, Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) tahun 2018 gagal total.

Kepala Desa Botolinggo, Santoso, mengatakan, program yang salah satunya bersumber dari APBN tersebut gagal total akibat kesalahan kontruksi.

Baca Juga :

“Kegagalannya bukan gagal tidak dikerjakan, tapi karena airnya tidak bisa naik,” jelas Kades Santoso, Rabu (13/11/2019).

Kades Santoso menjelaskan, program tersebut sepenuhnya di kerjakan oleh Kelompok Keswadayaan Masyarakat (KKM) yang di Ketuai oleh salah satu pengurus DPC PPP Bondowoso, Ali Wafa.

“Itu seluruhnya yang menangani Pamsimas, Ustadz Ali Wafa,” ungkapnya.

Program tersebut, lanjut Santoso, dikerjakan secara swadaya oleh masyarakat. Bahkan, pihak Desa juga turut menyumbang dana hampir menyentuh angka 100 juta.

“Pengerjaannya kita gotong royong membantu. Bahkan saya siang malam membantu. Yang dibayar hanya tenaga tehniknya dari Jember. Dan saya sudah habis banyak juga. Rencana Anggaran Biaya (RAB) sata tidak tau,” jelasnya.

Mewakili warga Desa, Santoso meminta tanggungjawaban KKM untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Warga Desa sangat membutuhkan air bersih.

“Saya minta pertanggungjawaban agar air bisa naik,” tutup Santoso.

Sementara Ali Wafa belum bisa memberikan keterangan. Saat di hubungi via telepon, Ali Wafa mengatakan masih berada di luar kota.

“Saya masih di luar kota,” tukas Ali Wafa.

Sedangkan Kepala Dinas Kesehatan Bondowoso, Muhammad Imron, tidak banyak memberikan keterangan. Imron mengatakan, Dinkes hanya terlibat saat persiapan pembangunan sebagai tim persiapan pembangunan.

“Kita (Dinkes) tidak ikut-ikutan urusan itu. Kita hanya menjadi tim persiapan pembangunan,” pungkasnya.

Untuk informasi, program tersebut mendapatkan suntikan dana dari APBN sebesar Rp 245 juta, Incash Rp 14 juta, Inkind Rp 56 juta, APBdes Sharing Rp 35 juta dan Abdes non sharing Rp 64,512 juta. Sehingga kurang lebih program tersebut talah menghabiskan Rp. 412.3 juta.

Terbitan Terkait