BONDOWOSO, Terbitan.com – Beberapa kebutuhan pokok masyarakat, seperti gula di Kabupaten Bondowoso harganya semakin meroket. Hingga sekitar Rp 18ribu per kilogram dari harga sebelumnya Rp 12.500.
Kasi Usaha Perdagangan dan Pengembangan Ekspor Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Ida Kurnia Theolita, dikonfirmasi membenarkan tingginya harga gula saat ini.
Namun dipastikan bahwa untuk toko-toko modern harga gula masih sesuai Harga Eceran Tertinggi ( HET) yakni Rp 12.500 per kilogram.
Setiap pembeli di toko modern hanya diperbolehkan membeli maksimal 2 kilogram. Adapun faktor penyebab tingginya harga gula karena kebutuhan banyak dan stok gula menipis.
“Stok gula masih terbatas untuk pasokannya. Sementara di pasaran stok masih ada, cuma tidak bisa dibeli secara banyak untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari di masyarakat,” katanya, Kamis (2/4/2020)
Sementara itu, Kepala Bulog Sub Divre Bondowoso-Situbondo, Moch. Rudy Prasetyo, menerangkan, bahwa pihaknya diminta untuk menyerap gula petani pada tahun 2018. Sementara, tahun-tahun berikutnya masih belum ada penugasan lagi.
“Jadi kita stock di Bulog untuk gula itu adalah, stock komersil. Karena di luaran langka otomatis di Bulog juga langka. Karena, juga kesulitan untuk pembeliannya,” paparnya.
Ia mengaku telah melakukan koordinasi untuk melakukan operasi pasar dengan Provinsi hingga Pusat. Hanya saja, untuk di Bondowoso masih harus menunggu kiriman.
“Ada beberapa faktor, yang utama itu gula terbatas itu ada di Lampung. Mungkin yang Lampung harus melayani daerah-daerah sekitar dulu. Kemudian beberapa nelpon ke Pabrik, karena tidak ada giling, kekurangan buruh jadi antri dulu,”imbuhnya.
Ia memperkirakan operasi pasar baru bisa dilaksanakan sebelum lebaran. “Sebelum lebaran, tapi mudah-mudahan sebelum puasa sudah bisa terlaksana,”ungkapnya.
Kepala Bagian Ekonomi, Pemkab Bondowoso, Aris Wasiyanto, juga membenarkan bahwa penyebab tingginya karena memang stok yang menipis.
Sementara di Pabrik Gula yang ada di Bondowoso proses gilingnya pun sudah selesai. Baru, pada sekitar bulan Mei atau Juni, PG Prajekan akan mulai menggiling kembali.
“PG sendiri juga kewalahan, stoknya sudah tidak ada. Bulog sendiri juga setelah saya konfirmasi stoknya tidak ada,”pungkasnya.



Tinggalkan Balasan