SUMENEP, Terbitan com – Upaya percepatan pencegahan dan penanggulangan Tuberkulosis (TBC) terus digencarkan di Kabupaten Sumenep. Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Sumenep berkolaborasi dengan Yayasan Bhanu Yasa Sejahtera (YABHYSA) menggelar Pelatihan Penyegaran Kader TBC Komunitas.
Pelatihan ini bertujuan memperkuat peran kader dalam menemukan kasus TBC secara aktif serta mendampingi pasien selama proses pengobatan. Kegiatan ini diikuti 40 peserta dan berlangsung pada 5–6 Maret 2025.
Kepala Dinkes P2KB Sumenep, Ellya Fardasah, menegaskan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat menekan angka penularan TBC di Sumenep.
“Saya mengapresiasi kegiatan ini karena kolaborasi antara pemerintah dan lintas sektor bisa berjalan efektif. Kita ingin kader semakin aktif mencari dan mengobati pasien TBC agar penyebaran penyakit ini bisa dikendalikan,” ujarnya saat membuka acara, Rabu (5/3/2025).
Ketua YABHYSA Sumenep, Zetiawan Trisno, menjelaskan bahwa kader TBC komunitas memiliki peran penting dalam penanggulangan penyakit ini.
“Kader TBC adalah ujung tombak penanggulangan, mereka berperan sebagai investigator, inisiator, dan educator. Mereka harus aktif melakukan investigasi kontak, menemukan kasus TBC, serta memberikan pendampingan dan edukasi bagi pasien dan keluarganya,” ungkap Zetiawan.
Menurutnya, kader harus mendorong pemberian Terapi Pencegahan TBC (TPT) kepada kontak serumah pasien serta memperluas praktik Pencegahan & Pengendalian Infeksi (PPI) di komunitas.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pelatihan ini mencakup berbagai aspek penting, seperti:
✅ Investigasi kontak pasien TBC
✅ Penemuan kasus aktif di masyarakat
✅ Pendampingan pengobatan pasien semua tipe TBC
✅ Pencatatan dan pelaporan kasus
“Dengan pelatihan ini, kader diharapkan semakin siap menghadapi tantangan di lapangan dan dapat membantu mencapai target eliminasi TBC,” tambahnya.
Kabupaten Sumenep menargetkan penemuan 2.955 kasus TBC pada tahun 2025. Untuk mendukung pencapaian tersebut, sebanyak 62 kader aktif disiapkan di seluruh Puskesmas di Sumenep.
“Kita ingin seluruh Puskesmas memiliki kader yang siap bertugas, termasuk di Puskesmas yang menjadi inisiasi pengobatan TB Resisten Obat (TB RO). Ini bagian dari strategi besar kita dalam percepatan eliminasi TBC,” papar Zetiawan.
TBC merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat di Indonesia. Data dari Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa Indonesia termasuk dalam lima besar negara dengan beban TBC tertinggi di dunia. Oleh karena itu, keterlibatan komunitas menjadi kunci dalam memutus rantai penularan.
Ellya Fardasah menambahkan bahwa keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada kader TBC, tetapi juga dukungan dari pemerintah dan masyarakat luas.
“Masyarakat harus lebih sadar akan bahaya TBC dan tidak ragu untuk melakukan pemeriksaan jika mengalami gejala. Dengan sinergi yang baik, kita bisa menurunkan angka penularan dan memastikan semua pasien mendapatkan pengobatan sampai sembuh,” katanya.
Dinkes P2KB Sumenep juga akan terus memantau efektivitas program ini dan melakukan evaluasi berkala untuk memastikan bahwa para kader dapat bekerja secara optimal.
Melalui pelatihan ini, diharapkan kader TBC di Sumenep dapat semakin aktif dalam melakukan investigasi dan pendampingan pasien. Dengan meningkatnya cakupan deteksi dan pengobatan, Kabupaten Sumenep dapat mencapai target eliminasi TBC lebih cepat.
Pemerintah daerah dan YABHYSA berkomitmen untuk terus memberikan dukungan kepada kader, baik dalam bentuk pelatihan lanjutan maupun penyediaan fasilitas yang mendukung tugas mereka di lapangan.
“Kami berharap kader tetap semangat dan bekerja dengan penuh dedikasi. TBC bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga sosial dan ekonomi. Dengan kerja sama yang baik, kita bisa menciptakan Sumenep yang lebih sehat dan bebas TBC,” tutup Zetiawan.


