SUMENEP, Terbitan.com – Kabupaten Sumenep, yang terkenal dengan kekayaan budaya dan keseniannya, kini semakin serius dalam upaya melestarikan warisan budayanya. Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudporapar) Sumenep telah menyiapkan sejumlah kebijakan strategis guna mendukung para pelaku seni dalam mempertahankan dan mengembangkan budaya daerah.

Kepala Disbudporapar Sumenep, Mohammad Iksan, menegaskan bahwa pihaknya terus melakukan pemantauan terhadap komunitas seni. Hal ini bertujuan untuk memastikan keberlanjutan dan perkembangan mereka, serta menyesuaikan kebijakan pemberdayaan dengan kebutuhan di lapangan.

“Saya sudah instruksikan Kabid Kebudayaan untuk turun langsung memantau aktivitas komunitas seni. Ini penting agar kebijakan yang kami buat benar-benar sesuai dengan kebutuhan mereka,” kata Iksan pada Minggu (16/3/2025).

Menurutnya, pendekatan langsung ini akan membantu pemerintah dalam menilai sejauh mana efektivitas program yang telah dicanangkan serta menentukan langkah strategis berikutnya.

Sebagai langkah nyata dalam pelestarian budaya, Disbudporapar Sumenep berencana mengintegrasikan seni dan budaya ke dalam setiap acara resmi pemerintahan.

“Kami ingin menunjukkan bahwa seniman memiliki peran penting dan dihargai oleh pemerintah, sehingga generasi muda tidak ragu untuk menekuni bidang ini,” ujarnya.

Misalnya, dalam penyambutan tamu dari luar daerah, seni tradisional khas Sumenep akan selalu ditampilkan. Selain itu, berbagai kesenian daerah juga akan dimasukkan ke dalam kalender event pariwisata tahunan, sehingga pelaku seni memiliki wadah untuk menampilkan karya mereka kepada khalayak luas.

“Kami selalu melibatkan seniman dalam berbagai acara, seperti penyambutan tamu dan gala dinner. Kalender event yang kami susun juga menjadi ajang pemberdayaan bagi mereka,” tambahnya.

Tak hanya itu, kesenian khas Sumenep juga didorong untuk tampil di berbagai destinasi wisata. Beberapa di antaranya adalah pertunjukan musik tong-tong dan tari Moang Sangkal di Pendopo Agung Keraton Sumenep, serta pertunjukan musik dangdut di Pantai Lombang dan Slopeng setiap minggu.

Meskipun komitmen terhadap pelestarian budaya terus diperkuat, Disbudporapar Sumenep masih menghadapi kendala besar, terutama dalam hal anggaran. Dari total kebutuhan sebesar Rp 6,1 miliar untuk menjalankan 110 event budaya yang telah dirancang, APBD hanya mampu mengalokasikan Rp 3 miliar.

“Dari total 110 kalender event yang kami rancang, kebutuhan anggaran mencapai Rp 6,1 miliar. Namun, APBD baru bisa mengalokasikan sekitar Rp 3 miliar. Kami masih berupaya agar tidak terjadi refocusing anggaran,” beber Iksan.

Meski menghadapi keterbatasan dana, pihaknya tetap berkomitmen untuk menyebarluaskan kesenian Sumenep, baik bagi masyarakat lokal maupun pengunjung dari luar daerah. Salah satu strateginya adalah dengan menggandeng komunitas seni dan pelaku pariwisata dari Yogyakarta, Solo, dan Surabaya agar mereka juga menampilkan kesenian khas Sumenep di daerah mereka.

“Kami bahkan mengundang komunitas pelaku pariwisata dari Yogyakarta, Solo, dan Surabaya agar mereka juga bisa menampilkan kesenian khas Sumenep di daerah mereka,” pungkasnya.

Pemerintah Kabupaten Sumenep tidak hanya memberikan wadah bagi para seniman, tetapi juga menyiapkan bentuk apresiasi terhadap tokoh-tokoh seni yang telah berkontribusi dalam melestarikan budaya daerah.

“Kami ingin menunjukkan bahwa seniman memiliki peran penting dan dihargai oleh pemerintah, sehingga generasi muda tidak ragu untuk menekuni bidang ini,” kata Iksan.

Penghargaan ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi para pelaku seni untuk terus berkarya serta menginspirasi generasi muda agar tetap mencintai seni dan budaya lokal.

Selain itu, langkah-langkah ini juga memiliki dampak positif terhadap sektor pariwisata. Dengan menampilkan kesenian lokal dalam berbagai event dan destinasi wisata, daya tarik Kabupaten Sumenep di mata wisatawan semakin meningkat.

“Jika seni dan budaya terus dilestarikan dan dipromosikan, maka pariwisata Sumenep akan berkembang lebih pesat. Wisatawan tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga kekayaan budaya yang unik,” tambahnya.

Untuk memperluas jangkauan promosi, Disbudporapar Sumenep juga menjalin kerja sama dengan beberapa daerah lain. Salah satu bentuk kolaborasi ini adalah dengan menghadirkan kesenian khas Sumenep dalam berbagai event kebudayaan di kota lain, seperti Yogyakarta, Solo, dan Surabaya.

“Kami ingin seni dan budaya Sumenep tidak hanya dikenal di dalam daerah, tetapi juga di luar daerah. Oleh karena itu, kami bekerja sama dengan kota-kota yang memiliki event kebudayaan besar untuk menampilkan kesenian kami di sana,” jelas Iksan.

Melalui kerja sama ini, diharapkan seni dan budaya Sumenep semakin dikenal luas dan mendapatkan perhatian lebih dari masyarakat di luar Madura.

Meski menghadapi berbagai tantangan, Disbudporapar Sumenep tetap berkomitmen untuk melestarikan seni dan budaya daerah. Berbagai kebijakan strategis telah disiapkan, mulai dari pemantauan komunitas seni, integrasi seni dalam acara resmi, hingga kerja sama dengan daerah lain untuk mempromosikan budaya Sumenep.

Dukungan pemerintah terhadap para pelaku seni juga semakin nyata dengan adanya penghargaan kepada tokoh-tokoh seni serta penyediaan panggung bagi mereka dalam berbagai event.

Meskipun keterbatasan anggaran masih menjadi kendala utama, pemerintah tetap berusaha mencari solusi agar program pelestarian budaya ini tetap berjalan. Dengan langkah-langkah yang telah diambil, diharapkan seni dan budaya Sumenep tetap lestari serta semakin dikenal oleh masyarakat luas.

“Kami ingin memastikan bahwa seni dan budaya Sumenep tetap hidup dan berkembang, bukan hanya untuk generasi sekarang, tetapi juga untuk generasi mendatang,” tutup Iksan.