MADIUN, terbitan.com – Dalam suasana Idul Fitri yang penuh hikmah, Romo Cokro Witjaksono, pengasuh Pondok Siswo Raharjo Caruban Madiun, mengungkapkan makna filosofis mendalam dari tradisi ketupat yang lekat dengan budaya Jawa. Ketupat, atau dalam istilah Jawa disebut Kupat, merupakan simbol pengakuan diri dan perjalanan spiritual manusia.

Menurut Romo Cokro, istilah Kupat adalah kependekan dari Ngaku Lepat, yang dalam bahasa Indonesia berarti mengaku salah atau mengakui dosa. Tradisi ini bukan sekadar sajian makanan, tetapi juga menjadi lambang permohonan maaf dan penyucian diri setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa Ramadan.

Lebih lanjut, ketupat juga dimaknai sebagai Laku Papat, yakni empat tindakan utama dalam merayakan Idul Fitri:

  1. Lebaran – sebagai tanda kembali fitrah.
  2. Luberan – simbol kemurahan hati dan berbagi rezeki.
  3. Leburan – perlambang pelebur dosa dan kesalahan.
  4. Laburan – tanda mensucikan diri lahir dan batin.

Bentuk ketupat yang segi empat juga memiliki arti mendalam, yaitu Kiblat Papat Limo Pancer—empat arah mata angin dengan satu pusat. Filosofi ini menggambarkan bahwa ke mana pun manusia melangkah, ia akan selalu kembali kepada Sang Pencipta, Allah SWT, sebagai pusat dari segala arah dan tujuan hidup.

“Ketupat bukan hanya makanan, tapi juga nasihat kehidupan. Sebuah pengingat untuk selalu rendah hati, saling memaafkan, dan kembali pada jalan yang benar,” ujar Romo Cokro.

Makna-makna ini terus dijaga dan diajarkan di lingkungan Pondok Siswo Raharjo, agar generasi muda tidak hanya merayakan Idul Fitri secara lahiriah, tetapi juga menjiwainya secara spiritual dan budaya.