SUMENEP, Terbitan com– Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Sumenep akan segera menggelar hajatan besar bertajuk Musyawarah Daerah (Musda) pada bulan Mei 2025 mendatang. Kepastian itu disampaikan usai rapat paripurna Dewan Pimpinan Daerah (DPD) KNPI yang memutuskan agenda Musda sebagai bagian dari proses regenerasi kepemimpinan organisasi.
Kegiatan ini menjadi momen strategis dalam menentukan arah baru KNPI Sumenep, sekaligus menjadi arena adu gagasan bagi para tokoh muda dari berbagai latar organisasi. Kurang dari satu bulan menjelang pelaksanaan, dinamika internal KNPI mulai menggeliat. Aura kompetisi pun terasa semakin kentara di berbagai kalangan pemuda Sumenep.
“Aspek regenerasi ini penting, apalagi KNPI adalah rumah besar bagi seluruh organisasi kepemudaan. Maka Musda kali ini akan menjadi tonggak arah baru ke depan,” ujar salah satu aktivis pemuda Sumenep.
Dia mengungkapkan bahwa perbincangan tentang calon ketua sudah ramai diperbincangkan, baik di forum resmi maupun informal. “Di warung kopi, diskusi kecil antar komunitas, mulai terasa. Beberapa nama sudah mencuat dan punya kekuatan masing-masing,” imbuhnya.
Berdasarkan penelusuran redaksi, berikut ini adalah beberapa nama yang disebut-sebut masuk dalam bursa calon Ketua KNPI Sumenep periode mendatang:
Divo Kurniawan Jayadi (GMNI)
Abd Wadud (GMNI)
Nurul Amin (PMII)
Ach Salim (Ansor)
Hosnan Abrori (PMII)
Hamdan (Muhammadiyah)
Moh Andriansyah (Muhammadiyah)
Hamsun (HMI)
Suyitno (HMI)
Fikri (HMI)
Ahmad Wasil (IPNU)
Nama-nama tersebut berasal dari organisasi kepemudaan yang selama ini dikenal aktif menggerakkan kegiatan sosial, pendidikan, keagamaan, serta pergerakan mahasiswa di berbagai level. Beberapa di antaranya bahkan memiliki rekam jejak panjang sebagai pemimpin di tingkat kampus dan komunitas lokal.
“Yang menarik, persaingan kali ini tidak hanya mengedepankan popularitas, tapi juga kekuatan jaringan dan kapasitas kepemimpinan,” tambahnya.
Menurutnya, pertarungan ini akan menjadi pertarungan narasi, bukan sekadar kontestasi antar basis. “Ada semangat baru dari banyak tokoh muda. Mereka membawa misi perbaikan sistem, revitalisasi peran pemuda, dan transparansi kelembagaan,” tegasnya.
Sementara itu, suara serupa datang dari kalangan perempuan. Meski belum banyak nama perempuan yang disebut dalam bursa ketua, sejumlah organisasi perempuan muda berharap Musyda juga bisa mendorong inklusivitas dalam struktur KNPI ke depan.
“Kami berharap ada keterwakilan yang proporsional dan dukungan program yang responsif terhadap isu-isu pemuda perempuan,” ungkap Lia FQ, Founder Komunitas Belajar Bicara.
Di balik gemerlapnya bursa calon dan geliat persiapan, ada tantangan yang harus dihadapi. Mulai dari teknis pelaksanaan, transparansi tata kelola organisasi, hingga potensi gesekan antar kelompok pendukung. Beberapa aktivis senior mengingatkan agar Musda tetap dijaga dalam semangat kolektivitas dan soliditas.
“Kita ingin regenerasi ini menghasilkan pemimpin yang mampu merangkul, bukan memecah. Jangan sampai kontestasi ini justru merusak marwah organisasi,” pesan Lia FQ
Menurutnya, DPD KNPI juga perlu membuka ruang dialog lebih luas agar semua unsur bisa berpartisipasi dalam menentukan arah baru.
“Bukan sekadar mengganti ketua, tapi juga membenahi struktur dan pola pikir,” tambahnya.


