Oleh: Moch Thoriqil Akmal B, S.H

Setiap tanggal 1 Juni, kita selalu dengar istilah Hari Lahir Pancasila. Pemerintah bikin upacara, sekolah-sekolah juga ramai memperingati, bahkan media sosial penuh ucapan dan kata-kata bijak soal Pancasila. Tapi pertanyaannya, apa kita beneran ngerti makna Pancasila itu sendiri? Atau cuma sekadar ikut-ikutan upacara dan posting di medsos?

Sebagai orang Indonesia, apalagi yang lahir dan besar di negeri ini, Pancasila bukan hal asing. Dari SD kita udah diajarin lima sila Pancasila. Hafal di luar kepala. Tapi yang sering terjadi, Pancasila cuma jadi pelajaran hafalan, bukan pegangan hidup. Kita lebih sering ngomongin Pancasila pas upacara doang, habis itu lupa.

Padahal, Pancasila itu dasar negara. Artinya, segala kebijakan, aturan, dan cara hidup kita seharusnya berdiri di atas lima nilai itu. Tapi kenyataannya, banyak orang yang justru melupakan atau bahkan melanggar nilai-nilai itu. Mulai dari pejabat sampai rakyat biasa, banyak yang ngaku cinta Pancasila tapi sikapnya jauh dari nilai-nilainya.

Mari kita bahas satu per satu, tapi dengan cara yang santai dan pakai logika sehari-hari. Biar gak terlalu berat.

1. Ketuhanan Yang Maha Esa

Sila pertama ini jelas menegaskan bahwa kita bangsa yang percaya pada Tuhan. Tapi percaya Tuhan itu bukan cuma soal ibadah rajin, tapi juga soal akhlak. Banyak orang rajin ke masjid, gereja, pura, atau vihara, tapi tetap korupsi, tetap menipu, tetap berlaku jahat.

Kadang aku mikir, kok bisa ya, orang yang ngaku religius tapi tega nyakitin orang lain? Itu artinya, kepercayaan pada Tuhan belum benar-benar masuk ke hati, masih sebatas formalitas. Padahal, kalau beneran percaya Tuhan, kita harusnya takut buat berbuat curang. Apalagi kalau udah urusannya sama uang rakyat.

Oreng poteh takajhâ pole ka Allah, tapeh poteh mata ka rakyat. (Orang takut kepada Tuhan, tapi juga takut menyakiti rakyat.)

2. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Ini juga lucu. Kita sering bilang kita manusia yang beradab, tapi masih suka rasis, masih suka ngebully, masih suka ngatain orang karena beda. Lihat aja di media sosial, banyak banget komentar jahat, hinaan, bahkan ancaman. Padahal semua itu bertentangan sama nilai kemanusiaan.

Adil dan beradab itu bukan cuma soal pidato atau peraturan, tapi soal sikap kita sehari-hari. Gimana kita memperlakukan orang lain, apalagi yang berbeda. Kalau masih gampang marah cuma karena beda pilihan politik, berarti kita belum beradab. Kalau masih ngerasa suku kita paling hebat, berarti kita belum adil.

Kita sering lupa bahwa semua manusia itu punya hak yang sama untuk dihormati. Dan kadang, kita lebih gampang menghormati orang kaya daripada orang miskin. Padahal kemanusiaan gak boleh pilih-pilih.

3. Persatuan Indonesia

Ini sila yang paling sering dipakai kalau udah masuk tahun politik. Semua pihak teriak soal persatuan. Tapi begitu beda pilihan, langsung saling serang. Di media sosial, keluarga bisa pecah gara-gara beda capres. Teman bisa putus hubungan cuma karena beda partai.

Kita lupa bahwa Pancasila itu bukan buat dibela pas kampanye aja, tapi buat dijaga sepanjang waktu. Persatuan itu artinya saling merangkul, bukan saling menjatuhkan. Boleh beda pendapat, tapi jangan sampai saling musuh-musuhan.

Oreng Madura bilang: “Sare’at oreng bhineka, tapi ajhâ tak paksa.” (Aturan kita berbeda-beda, tapi jangan saling memaksa.)

Bangsa ini besar karena keberagaman. Kalau semua sama, malah membosankan. Justru perbedaan itu yang bikin kita kuat, asal bisa saling menghargai.

4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan

Ini sila yang paling panjang. Tapi maknanya dalam banget. Intinya, pemimpin itu harus bijak dan keputusan harus diambil lewat musyawarah. Tapi lihat deh kenyataannya, banyak keputusan yang diambil secara sepihak. Musyawarah cuma formalitas, rakyat gak benar-benar didengar.

Kita sering lihat DPR rapat cuma formalitas, atau malah kosong. Kadang, yang duduk di kursi rakyat justru gak ngerti masalah rakyat. Dan di desa-desa pun kadang musyawarah cuma jadi ajang formalitas, keputusan sudah ditentukan di belakang.

Sila ini ngajarin kita untuk terbuka, mau mendengar, dan mencari jalan tengah. Gak semua harus diputuskan lewat suara terbanyak, kadang yang benar itu suara minoritas. Yang penting bijak, adil, dan tidak memaksakan kehendak.

5. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Ini sila yang paling terasa masih jauh dari kenyataan. Keadilan sosial itu artinya semua orang punya kesempatan yang sama untuk hidup layak. Tapi hari ini, yang kaya makin kaya, yang miskin makin susah.

Contohnya? Lihat saja di desa-desa. Akses pendidikan dan kesehatan masih sulit. Sementara di kota besar, semua serba mudah. Belum lagi masalah pengangguran, ketimpangan tanah, dan gaji buruh yang gak layak. Apakah itu adil?

Pancasila ngajarin keadilan, tapi praktiknya kadang justru ketidakadilan yang merajalela. Banyak bantuan sosial yang salah sasaran. Banyak proyek pembangunan yang cuma menguntungkan segelintir orang. Kalau kayak gitu, keadilan sosial cuma jadi tulisan di dinding.

Dari lima sila tadi, kita bisa lihat bahwa Pancasila itu bukan cuma soal hafalan, tapi soal perbuatan. Jangan cuma hafal tapi gak paham. Jangan cuma paham tapi gak praktik.

Yang paling penting, Pancasila harus dihidupi. Artinya, kita harus menjadikan Pancasila sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Gak usah muluk-muluk. Mulailah dari hal kecil. Misalnya:

Gak nyebar hoaks di grup WA.

Gak nyalahin orang cuma karena beda agama atau suku.

Gak buang sampah sembarangan.

Gak ambil hak orang lain.

Mau dengar pendapat orang meskipun kita gak setuju.

Kalau semua orang melakukan itu, maka Indonesia akan jadi negara yang bener-bener pancasilais. Gak cuma di mulut, tapi di hati dan perbuatan.

Anak muda punya peran besar dalam menjaga Pancasila. Karena ke depan, merekalah yang akan memimpin bangsa ini. Tapi sayangnya, banyak anak muda yang mulai cuek sama Pancasila. Dianggap kuno, gak relevan, atau terlalu formal.

Padahal, nilai-nilai Pancasila justru sangat cocok untuk generasi sekarang. Anak muda sekarang peduli soal keadilan, kesetaraan, dan toleransi. Semua itu adalah inti dari Pancasila. Cuma mungkin cara menyampaikannya harus disesuaikan. Bukan lewat ceramah, tapi lewat aksi nyata, konten kreatif, komunitas, atau gerakan sosial.

Pancasila harus “dihidupkan kembali” lewat cara-cara baru yang dekat dengan dunia anak muda. Misalnya lewat musik, film, YouTube, atau bahkan TikTok. Yang penting pesannya sampai.

Sebagai orang Madura, saya merasa nilai-nilai Pancasila sangat cocok dengan karakter masyarakat kita. Orang Madura dikenal religius (sesuai sila pertama), punya solidaritas tinggi (sila kedua dan ketiga), suka musyawarah (sila keempat), dan menjunjung keadilan (sila kelima).

Tapi kita juga harus jujur, kadang kita juga masih mudah terprovokasi, masih suka konflik, masih mudah termakan isu. Karena itu, kita harus lebih kuat lagi memegang nilai-nilai Pancasila, supaya Madura bisa jadi contoh bagi daerah lain dalam menjaga kerukunan dan keadilan.

Pancasila bukan milik pemerintah saja. Pancasila adalah milik kita semua. Jadi tanggung jawab menjaga dan menghidupkannya juga ada di tangan kita. Mulai dari diri sendiri, keluarga, sampai lingkungan sekitar.

Jhek sala panggilan, Pancasila tak bisa tak atoranah (Jangan salah panggil, Pancasila itu bukan sekadar aturan, tapi panduan hidup).