Oleh: Moch Thoriqil Akmal B, S.H

Tikus zaman sekarang tidak seperti tikus zaman dulu yang sembunyi di selokan. Mereka pintar, pakai parfum, punya gelar, bahkan difoto setiap kali menyerahkan bantuan ke warga miskin. Tapi itu hanya wajah depan. Di belakang layar, mereka tahu cara mengatur anggaran agar bisa disedot perlahan-lahan.

Mereka makan enak tanpa suara. Tidak perlu gigit kabel, cukup tandatangan. Tidak perlu mencuri di malam hari, cukup pakai proyek fiktif, markup harga, atau modus honor kegiatan yang tak pernah ada. Semuanya halal di akal mereka, walau haram di nurani. Dan anehnya, mereka selalu kenyang.

Tikus yang seperti ini bukan fiksi. Kita melihatnya hampir tiap hari, baik di berita maupun di lingkungan sekitar. Bahkan ada yang merasa bangga karena bisa “menikmati” sesuatu yang bukan haknya. Mereka bukan takut, tapi malah merasa hebat karena bisa mengelabui hukum dan rakyat.

Ada tokoh kucing. Ia tahu bahwa tikus makan enak. Maka tikuslah yang selalu dikejarnya. Tapi, kalau kita lihat realitasnya, apakah “kucing-kucing” kita benar-benar mengejar tikus?

Pertanyaan itu menggelitik. Karena kadang, kucing-kucing ini hanya pura-pura lapar. Mereka memang mengejar, tapi bukan untuk memangsa. Kadang hanya untuk negosiasi. “Tikusnya gemuk, ya sudah bagi sedikit.” Lalu masalah selesai di meja makan, bukan di meja hijau.

Kucing-kucing seperti ini banyak juga berkeliaran. Mereka bisa berasal dari lembaga penegak hukum, pengawas internal, auditor, atau bahkan sesama pejabat. Di depan publik, mereka marah-marah. Tapi di belakang, mereka bertukar senyum dan paket.

Jadilah negeri ini seperti panggung sandiwara. Ada yang pura-pura lapar, ada yang pura-pura takut, tapi sebenarnya mereka sedang bagi hasil.

Inilah yang membuat tikus-tikus itu diburu bukan untuk dibasmi, tapi untuk “diperas”. Ada yang ingin ikut menikmati gizinya. Bahkan mungkin kucingnya juga ingin jadi tikus. Atau minimal, jangan bikin ribut selama masih dapat bagian.

Inilah realita yang pahit. Negeri ini terlalu kaya. Kaya akan sumber daya, tapi juga kaya akan tikus. Dan karena gizinya banyak, mereka tidak pernah kenyang. Justru saling berebut. Dari tikus kecil di kantor desa, sampai tikus besar di kementerian.

Mereka tidak perlu jadi ahli, cukup bisa main koneksi dan tahu “jalan belakang”. Tikus yang tidak punya jabatan, bisa “numpang makan” di proyek. Tikus yang punya kekuasaan, tinggal arahkan siapa yang boleh ikut makan. Tikus zaman sekarang tahu cara main cantik. Licik, tapi rapi.

Yang paling kasihan tentu saja kita rakyat kecil. Rumah ini rumah kita, tapi isinya dikuasai tikus. Kita yang bayar pajak, kita yang antre di puskesmas, kita yang anaknya putus sekolah, kita yang kena banjir karena drainase fiktif.

Tapi ketika kita mengeluh, jawabannya selalu klasik: “Anggaran terbatas”, “Sudah sesuai aturan”, atau “Kami akan evaluasi”. Kata-kata itu kosong. Seperti mangkok yang dibolak-balik tapi tak pernah ada nasi.

Kita cuma bisa menonton. Bahkan kadang kita dijadikan tameng. Nama rakyat dipakai untuk mengesahkan program. Tapi saat anggaran turun, kita hanya dapat undangan makan siang dan spanduk. Sementara tikus-tikusnya pesta pora di belakang.

Pertanyaan terakhir yang penting kita renungkan: mungkinkah tikus berubah? Mungkinkah kucing kembali jadi pemangsa sejati?

Jawabannya tergantung pada kita semua. Kalau rakyat diam, maka tikus akan makin besar. Kalau kucing tidak ditekan, maka ia akan terus pura-pura lapar. Tapi kalau rakyat bersatu, menuntut transparansi, menagih keadilan, dan tidak diam saat haknya dirampok, maka setidaknya tikus-tikus itu akan berpikir dua kali.

Perubahan itu tidak akan datang dari atas. Karena yang di atas sudah kenyang. Perubahan hanya bisa datang dari bawah. Dari suara yang kecil tapi keras. Dari tulisan, dari aksi, dari keberanian bersuara di warung kopi, di forum desa, bahkan di media sosial.

Kita tidak butuh revolusi besar. Tapi kita butuh kesadaran kecil yang terus tumbuh. Bahwa negeri ini harus bebas dari tikus rakus. Dan kucing harus kembali ke nalurinya: memangsa, bukan memelihara.