NGAWI,terbiran.com – Alun-alun Kabupaten Ngawi dipadati ribuan siswa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Aisyiyah. Mengenakan seragam olahraga berwarna-warni, anak-anak tampak antusias mengikuti kegiatan Senam Massal Anak Aisyiyah Hebat yang berlangsung meriah dan penuh keceriaan. Kamis (29/1/26)

Kegiatan tersebut bukan sekadar ajang olahraga dan kebersamaan. Di balik kemeriahan acara, Ikatan Guru Aisyiyah Bustanul Athfal (IGABA) Kabupaten Ngawi menjadikannya momentum penting dengan meluncurkan program strategis bertajuk IGABA Mandiri, yang digadang-gadang menjadi tonggak baru penguatan pendidikan anak usia dini di Kabupaten Ngawi.

Peluncuran IGABA Mandiri mengusung tema “Membangun Kemandirian IGABA dalam Melejitkan PAUD Aisyiyah untuk Generasi Berkelanjutan”. Acara ini dihadiri langsung oleh Bupati Ngawi, Ony Anwar Harsono, didampingi Ketua TP PKK Kabupaten Ngawi, Ana Ony Anwar Harsono, serta diikuti ribuan guru PAUD dan wali murid.

Program IGABA Mandiri dirancang sebagai motor penggerak kemandirian organisasi guru PAUD Aisyiyah agar lebih adaptif, inovatif, dan mampu menjawab tantangan pendidikan di era modern. Tidak hanya berfokus pada kurikulum formal, program ini menitikberatkan pada penguatan tata kelola organisasi, peningkatan kapasitas guru, serta pengembangan inovasi pembelajaran yang berkelanjutan.

Dalam sambutannya, Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono menyampaikan pesan yang menohok sekaligus mencerahkan kepada para orang tua. Ia meluruskan pandangan bahwa pendidikan karakter sepenuhnya menjadi tanggung jawab sekolah.

“Pembentukan karakter anak itu komposisinya 80 persen berasal dari orang tua dan 20 persen dari guru. Lingkungan keluarga adalah madrasah pertama bagi anak-anak kita,” tegas Bupati Ony.

Menurutnya, terdapat tiga pilar utama yang harus diperhatikan orang tua di era digital saat ini. Pertama adalah investasi waktu, di mana kesibukan pekerjaan tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan pendampingan anak. Kualitas interaksi di rumah dinilai jauh lebih berharga dibandingkan sekadar pemenuhan fasilitas materi.

Pilar kedua adalah keteladanan nyata, yakni penanaman nilai dan budi pekerti yang tidak cukup hanya disampaikan melalui teori, namun harus dicontohkan dalam perilaku sehari-hari. Sementara pilar ketiga adalah penciptaan ekosistem keluarga yang harmonis, di mana suasana rumah yang sehat secara emosional dan penuh kasih sayang menjadi fondasi utama bagi kesehatan mental anak.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ngawi, Kabul Tunggul Winarno, menyampaikan bahwa peluncuran IGABA Mandiri merupakan langkah taktis dalam membangun ekosistem pendidikan anak usia dini yang lebih kuat dan berdaya.

“Dengan kemandirian organisasi, IGABA diharapkan mampu melahirkan berbagai inovasi pengajaran yang tidak hanya mencetak anak cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh secara karakter demi menyongsong generasi masa depan yang berkelanjutan,” pungkasnya.