SAMPANG, Terbitan.com – Paket program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan kepada siswa SDN Banjar Talela 3, Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang, menjadi sorotan publik.

Pasalnya, isi paket yang diterima dinilai tidak sepenuhnya selaras dengan pedoman resmi menu kemasan sehat yang dikeluarkan Badan Gizi Nasional untuk periode Ramadhan.

Berdasarkan dokumentasi yang beredar, paket tersebut berisi satu bungkus biskuit selai nanas, tiga kotak susu UHT ukuran kecil, serta satu buah jeruk.

Sementara dalam pedoman resmi “Paket Makanan Kemasan Sehat MBG Bulan Ramadhan” yang dirilis Badan Gizi Nasional, rekomendasi menu mencakup telur asin, abon, dendeng kering, buah, serta kurma (opsional). Pedoman itu juga menekankan pentingnya kandungan protein hewani tahan lama sebagai sumber gizi utama.

Hal itu disampaikan Herman Sugianto selaku aktivis asal Kecamatan Camplong, ia menilai adanya perbedaan mencolok antara rekomendasi menu dan paket yang diterima siswa.

Pedoman sajian menu MBG selama bulan Ramadhan yang disarankan Badan Gizi Nasional (BGN). (Istimewa)

“Jika mengacu pada pedoman resmi, seharusnya terdapat sumber protein seperti telur asin, abon, atau dendeng. Dalam paket yang beredar, komponen itu tidak terlihat. Ini yang perlu dijelaskan,” ujar Herman, Kamis (26/2/2026).

Menurutnya, dominasi produk olahan seperti biskuit dan susu rasa berpotensi membuat komposisi gizi lebih bertumpu pada karbohidrat dan gula, bukan protein utama sebagaimana dianjurkan dalam pedoman.

“Program MBG sangat baik secara tujuan. Namun implementasinya harus konsisten dengan standar yang telah ditetapkan agar manfaat gizinya optimal,” tegasnya.

Ia menilai jika begitu MBG yang merupakan program unggulan Presiden Indonesia Prabowo Subianto ini dinilai hanya akan jadi bancakan oknum pemilik SPPG yang mungkin tidak tahu apa itu Gizi.

“Saya curiga mereka bukan ahli Gizi, jadi tidak peduli bergizi atau tidak sajian yang diberikan. Yang penting mereka dapat untung banyak,” pungkasnya.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terkait mengenai alasan perbedaan komposisi paket dengan pedoman yang beredar.

Program MBG sendiri digagas untuk meningkatkan kualitas asupan gizi anak sekolah dan menekan angka stunting. Karena itu, kesesuaian antara pedoman dan pelaksanaan di lapangan menjadi krusial agar tujuan program dapat tercapai secara maksimal.