MADIUN, terbitan.com – Taman Kota Caruban, tampak lebih hidup dari biasanya. Hujan yang sempat turun  di sejumlah titik tak menyurutkan antusiasme ratusan warga untuk menyaksikan penampilan siswa dari Sanggar Karya Madiun .Sabtu (28/3/2026),

Sebanyak 150 peserta didik ambil bagian dalam acara bertajuk “Gelar Karya”. Mereka menampilkan ragam seni tradisional, mulai dari tari, dongkrek, karawitan, hingga pencak silat. Selain itu, kegiatan ini juga dirangkai dengan peluncuran lagu terbaru berjudul Madiun Bersahaja.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Madiun, Agus Sucipto memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai acara ini menjadi momen berharga dalam upaya pelestarian budaya.

“Kegiatan ini sangat luar biasa. Sanggar Karya di bawah Mas Andika menjadi salah satu pilar penting dalam menjaga nilai etika, budaya, serta akhlak generasi muda,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan pentingnya menjaga dan merawat budaya lokal agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman. Menurutnya, kegiatan semacam ini berperan besar dalam membentuk karakter generasi penerus.

Hal senada disampaikan Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Madiun, Puji Rahmawati. Ia mengaku bangga melihat semangat para peserta yang tetap tampil maksimal meskipun cuaca kurang mendukung.

“Penampilan adik-adik ini sangat membanggakan. Potensi mereka layak untuk dikembangkan hingga ke tingkat yang lebih tinggi,” ujarnya.

Puji menambahkan, kegiatan seni tidak hanya mengasah bakat, tetapi juga membentuk sikap disiplin, kerja sama, serta kepercayaan diri anak-anak.

Andika Agustino Wella Mahendra Pendiri Sanggar Karya Madiun, Desa Darmorejo Kecamatan Mejayan.

Sementara itu, pendiri Sanggar Karya Andika Agustino Wella Mahendra, menjelaskan bahwa “Gelar Karya” merupakan wadah bagi siswa untuk mengekspresikan kreativitas, bukan sekadar evaluasi akhir.

“Ini bukan hanya ujian, tetapi kesempatan bagi anak-anak untuk menunjukkan hasil latihan dan kreativitas mereka. Termasuk dengan menghadirkan karya lagu baru,” jelasnya.

Ia menyebutkan, persiapan penampilan telah dilakukan selama satu semester, dengan ciri khas penggunaan musik live sebagai pengiring setiap pertunjukan.

“Harapan kami, generasi muda mampu terus melestarikan seni tradisional seperti dongkrek, karawitan, dan tari. Sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap budaya lokal,” tegasnya.

Di tengah cuaca yang kurang bersahabat, semangat para peserta justru menjadi sorotan. Dengan penampilan yang tetap maksimal, mereka membuktikan bahwa kecintaan terhadap seni mampu mengatasi segala keterbatasan.