NGAWI, terbitan.com – Ketika sebagian besar acara masyarakat masih bergantung pada kantong dan wadah plastik sekali pakai, warga Desa Danguk, Kecamatan Karangjati, Kabupaten Ngawi justru menunjukkan cara berbeda. Dalam tradisi Bersih Dusun yang digelar di Punden Mbah Nolo Kerso, ratusan warga membawa besek anyaman bambu berisi berkatan sebagai simbol syukur sekaligus kampanye nyata mengurangi sampah plastik.

Pemandangan unik itu terlihat sejak pagi. Ratusan besek bambu berjajar rapi di kawasan punden, menciptakan suasana tradisional yang jarang ditemui di era modern. Besek-besek tersebut berisi ambeng, ayam panggang, nasi urap, serta berbagai lauk khas kenduri yang dibawa warga untuk didoakan bersama.

Tradisi tahunan yang dipadukan dengan pertunjukan Langen Bekso itu tidak hanya menjadi agenda budaya, tetapi juga menyedot perhatian karena mengangkat kembali penggunaan wadah ramah lingkungan yang mulai ditinggalkan masyarakat.

Kepala Desa Danguk, Hadi Sudarno, mengatakan kegiatan bersih dusun merupakan bentuk uri-uri budaya sekaligus ungkapan rasa syukur masyarakat atas rezeki, keselamatan, dan keberkahan yang diterima selama setahun terakhir.

“Sebagai bentuk uri-uri budaya sekaligus ungkapan rasa syukur masyarakat atas rezeki, keselamatan, dan keberkahan yang diberikan Tuhan kepada warga Desa Danguk,” ujarnya, Sabtu (6/6/2026).

Menurut Hadi, keunikan tradisi tahun ini tidak hanya terletak pada berkatan yang dibawa warga, tetapi juga kebijakan pemerintah desa yang menyediakan besek secara gratis.

“Kita fasilitasi 550 pasang besek dan dibagikan gratis kepada masyarakat sebelum acara berlangsung,” ungkapnya.

Langkah tersebut bukan tanpa alasan, kata dia pemerintah desa sengaja mendorong penggunaan besek bambu untuk menekan penggunaan plastik sekali pakai yang selama ini menjadi persoalan lingkungan di berbagai kegiatan masyarakat.

“Kita mengurangi sampah plastik. Besek dari anyaman bambu selain mudah terurai, juga memberikan pemasukan bagi para pengrajin bambu di desa maupun wilayah sekitar,” jelasnya.

Di balik bentuknya yang sederhana, besek bambu ternyata menyimpan makna yang lebih dalam. Selain menjadi bagian dari tradisi leluhur, penggunaan besek juga menghidupkan kembali ekonomi para perajin bambu yang selama ini kalah bersaing dengan produk berbahan plastik.

Hadi menambahkan, tradisi bersih dusun merupakan bentuk penghormatan kepada para leluhur yang dahulu membuka hutan atau membabat alas hingga berdirinya Desa Danguk. Karena itu, tradisi tersebut tidak boleh sekadar dipandang sebagai ritual tahunan.

“Ini adalah bentuk penghormatan kepada para pendahulu yang telah merintis desa ini. Sekaligus pengingat bahwa budaya dan lingkungan harus dijaga bersama,” katanya.

Usai doa bersama, warga menikmati berkatan yang mereka bawa. Suasana hangat dan penuh kebersamaan tampak menyelimuti kawasan punden. Bagi Pemerintah Desa Danguk, tradisi bersih dusun bukan hanya soal melestarikan budaya, tetapi juga menghadirkan solusi sederhana untuk persoalan lingkungan dan ekonomi masyarakat.

“Kemajuan zaman tidak harus menghilangkan akar budaya yang telah menjadi identitas desa selama puluhan bahkan ratusan tahun. Tradisi seperti ini harus terus lestari,” pintanya.

Di saat banyak daerah berbicara tentang pengurangan sampah plastik, warga Desa Danguk memilih membuktikannya lewat aksi nyata.

“Dari sebuah besek bambu, kami merawat tradisi, menjaga lingkungan, sekaligus menggerakkan ekonomi rakyat,” tutup Hadi.