NGAWI, terbitan.com – Di tengah menjamurnya pasar wisata tematik di berbagai daerah, Desa Jatimulyo, Kecamatan Mantingan, Kabupaten Ngawi, memilih jalan berbeda. Bukan membangun destinasi baru, pemerintah desa bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) justru menyulap kawasan Gunung Kendil yang selama ini dikenal sebagai wisata hutan menjadi Pasar Bantar, sebuah ruang ekonomi kreatif yang menyatu dengan pesona alam pegunungan.

Langkah tersebut mulai menunjukkan hasil. Kawasan yang dulu terkesan sepi kini mulai ramai dikunjungi warga. Pengunjung datang bukan hanya untuk berburu kuliner dan produk UMKM, tetapi juga menikmati suasana hutan yang sejuk dengan spot foto berlatar perbukitan hijau yang menyerupai kawasan pegunungan.

Berlokasi di kawasan RPH Tlogo petak 158 E, Gunung Kendil atau Kendil Mountain menawarkan pengalaman berbeda dibanding pasar wisata pada umumnya. Dari pintu masuk utama, pengunjung hanya perlu berjalan kaki sekitar 200 meter menyusuri jalur hutan rindang sebelum tiba di area Pasar Bantar.

Perpaduan antara wisata alam dan aktivitas ekonomi kerakyatan itulah yang menjadi daya tarik utama. Di bawah naungan pepohonan, puluhan pelaku UMKM lokal menjajakan aneka kuliner tradisional, makanan khas desa, hingga produk kreatif masyarakat setempat.

Kepala Desa Jatimulyo, Wiyono, mengatakan pengembangan Pasar Bantar merupakan bagian dari upaya desa menciptakan ikon wisata yang mampu mengangkat potensi lokal sekaligus menggerakkan roda perekonomian warga.

“Kita ingin punya ikon wisata. Makanya Gunung Kendil kita sulap dengan menghadirkan pasar tradisional. Dulu kawasan ini seperti terpinggirkan, sekarang justru mulai mampu menggerakkan ekonomi masyarakat,” ujarnya, Rabu (10/6/2026).

Menurut Wiyono, kehadiran Pasar Bantar bukan sekadar menghadirkan tempat wisata baru. Lebih dari itu, pasar tersebut diharapkan menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat sekaligus ruang hiburan bagi warga Mantingan yang selama ini harus pergi ke pusat kota untuk mencari alternatif rekreasi.

“Masyarakat Mantingan tidak perlu jauh-jauh ke kota untuk mencari hiburan. Di sini mereka bisa menikmati wisata alam, kuliner, sekaligus mendukung produk UMKM lokal,” katanya.

Optimisme serupa juga disampaikan Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Ngawi, Wiwien Purwaningsih. Ia menilai Pasar Bantar merupakan contoh pengembangan wisata berbasis masyarakat yang lahir dari inisiatif warga dan pemerintah desa.

Menurutnya, Gunung Kendil sebenarnya telah dikenal sebagai destinasi wisata alam. Kehadiran Pasar Bantar yang digelar rutin setiap Sabtu menjadi nilai tambah yang mampu memperpanjang aktivitas wisata sekaligus membuka peluang ekonomi baru.

“Ini murni inisiatif pemerintah desa bersama Pokdarwis. Peran kami lebih kepada berbagi pengalaman dan memberikan masukan dari pengelolaan pasar-pasar wisata yang sudah berkembang,” ungkapnya.

Kendati demikian, Wiwien mengingatkan agar Pasar Bantar tidak terjebak menjadi destinasi yang hanya mengikuti tren sesaat. Menurutnya, keberlanjutan menjadi kunci utama agar pasar wisata tersebut mampu bertahan dan terus berkembang.

“Jangan hanya fomo atau ikut-ikutan tren. Pasar ini harus benar-benar tumbuh dari masyarakat, memiliki ciri khas, daya tarik yang kuat, dan mampu menggerakkan ekonomi kerakyatan secara berkelanjutan,” tegasnya.

Untuk itu, ia mendorong penyelenggara terus melakukan evaluasi, mulai dari tata letak lapak, konsep acara, pengelolaan pendapatan, hingga memperluas kolaborasi dengan sanggar seni, komunitas budaya, dan sekolah-sekolah agar Pasar Bantar memiliki konten yang semakin beragam.