NGAWI, terbitan.com – Polemik kegiatan akhirussanah MI Muhammadiyah Bulung yang dikemas dengan perjalanan ke Yogyakarta mendapat perhatian serius dari Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Ngawi. Kemenag memastikan akan memanggil kepala madrasah, pengawas, serta pihak yayasan untuk mengklarifikasi kegiatan yang menuai sorotan tersebut.

Kasi Pendidikan Madrasah (Pendma) Kemenag Ngawi, Yusuf Masruri, mengaku pihaknya tidak pernah menerima pemberitahuan maupun tembusan terkait agenda yang melibatkan siswa, wali murid, dan belasan guru itu.

“Kami tidak dikonfirmasi terkait kegiatan yang diadakan oleh MI Muhammadiyah Bulung. Sebab kegiatan itu ke kami di Kemenag tidak ada pemberitahuan,” kata Yusuf, Kamis (11/6/2026).

Menurut Yusuf, meski selama menjabat belum pernah mengeluarkan edaran khusus terkait study tour, setiap madrasah tetap wajib mematuhi aturan dan kebijakan yang telah diterbitkan sebelumnya.

Sebagai tindak lanjut, Kemenag akan memanggil pihak-pihak terkait untuk meminta penjelasan.

“Kami akan memanggil kepala madrasah yang bersangkutan didampingi pengawasnya. Karena ini madrasah swasta, perwakilan yayasan juga akan kami ajak koordinasi,” tegasnya.

Di sisi lain, pihak sekolah membantah kegiatan tersebut merupakan study tour yang diselenggarakan madrasah. Humas MI Muhammadiyah Bulung, Rahmat Efendi, menegaskan kegiatan itu murni inisiatif wali murid kelas VI.

“Itu bukan tour sekolah, tetapi kegiatan akhirussanah yang dipanitiai wali murid. Tidak ada paksaan dan sekolah hanya memfasilitasi,” katanya.

Namun polemik muncul setelah panitia mengungkapkan sebanyak 13 guru akan ikut dalam perjalanan tersebut dan seluruh biaya pendampingan guru digratiskan.

Panitia kegiatan, Martini, menyebut setiap peserta dikenakan biaya Rp450 ribu untuk satu siswa dan satu orang tua pendamping.

“Guru juga kami ajak mendampingi, jumlahnya sekitar 13 orang. Guru tidak bayar, kita gratiskan semuanya,” ungkapnya.

Klarifikasi yang akan dilakukan Kemenag Ngawi kini menjadi penentu untuk menjawab sejumlah pertanyaan yang berkembang di masyarakat. Apakah kegiatan tersebut benar-benar murni inisiatif wali murid atau merupakan kegiatan sekolah yang dibungkus dengan nama akhirussanah, masih menunggu hasil pemanggilan dan koordinasi resmi dari Kemenag.