NGAWI, terbitan.com – Di tengah penurunan alokasi Dana Desa (DD) Tahun 2026 yang cukup drastis, Pemerintah Desa (Pemdes) Ngale, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi, tetap tancap gas melaksanakan pembangunan infrastruktur yang dinilai mendesak dan berdampak langsung bagi masyarakat.
Salah satu proyek yang telah selesai dikerjakan adalah pembangunan talud atau Tembok Penahan Tanah (TPT) di Dusun Jambe Kidul RT 003 RW 005, Desa Ngale. Pekerjaan tersebut memiliki volume sepanjang 19 meter dengan anggaran sebesar Rp58.344.200 yang bersumber dari Dana Desa Tahun 2026.
Kepala Desa Ngale, Yan Teguh Wibowo mengungkapkan, pembangunan talud di desanya bukan sekadar proyek fisik biasa. Keberadaannya dinilai sangat vital untuk mengamankan konstruksi jembatan penghubung yang menjadi akses utama mobilitas warga.
Ia menegaskan bahwa berkurangnya anggaran Dana Desa tidak menyurutkan komitmen pemerintah desa dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat
“Meskipun anggaran Dana Desa tahun ini turun cukup drastis, kami tetap berupaya memaksimalkan setiap rupiah yang ada untuk pembangunan yang benar-benar dibutuhkan warga,” ujarnya, Rabu (17/6/2026).
Menurutnya, pembangunan talud di Dusun Jambe Kidul masuk dalam daftar prioritas karena berkaitan langsung dengan keselamatan warga dan keberlangsungan akses transportasi masyarakat. Selain itu, untuk mengantisipasi potensi longsor yang kerap mengancam saat musim penghujan.
“Jembatan ini menjadi jalur penting bagi aktivitas warga. Karena itu, penguatan talud harus dilakukan agar konstruksi tetap aman dan tidak terdampak erosi maupun longsor,” tambahnya.
Dengan anggaran yang lebih terbatas, pemerintah desa memilih fokus pada infrastruktur yang memiliki manfaat besar dan menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung dengan menerapkan skala prioritas yang ketat dalam penyusunan program pembangunan.
Diwakili Ketua RT 003, masyarakat menilai pembangunan talud memberikan perlindungan jangka panjang terhadap jembatan dan badan jalan di sekitarnya, sekaligus mengurangi risiko kerusakan yang selama ini menjadi kekhawatiran ketika debit air meningkat.
“Bukti pembangunan tetap bisa berjalan ditengah keterbatasan anggaran, salah satunya perencanaan yang matang tepat dan melibatkan masyarakat,” pungkas ketua RT setempat.


