NGAWI, terbitan.com – Di tengah banyaknya desa wisata yang sempat viral lalu meredup, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Duta Karya di Desa Brubuh, Kecamatan Jogorogo, Kabupaten Ngawi, justru menunjukkan tren sebaliknya.

Keberhasilan tersebut tak lepas dari tangan dingin Danang Kurniadi (42), Direktur BUMDes Duta Karya, lulusan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM), yang memilih pulang kampung untuk membangun desanya melalui industri pariwisata berbasis riset, bukan sekadar mengikuti tren.

Danang mengaku, melakukan riset selama enam tahun tanpa sepengetahuan pemerintah desa dan menggagas konsep secara matang, sehingga unit usaha milik desa ini mampu mencatat omzet sekitar Rp3 miliar per tahun dengan kunjungan mencapai 80 ribu hingga 120 ribu wisatawan setiap tahun.

“Banyak desa saat itu berlomba membuat desa wisata karena sedang populer. Menurut saya itu berbahaya jika tidak memiliki roadmap dan riset. Banyak yang awalnya ramai, kemudian tutup karena hanya ikut-ikutan,” ujar Danang. Selasa (28/7/26)

Kesuksesan Kayangan Cafe and Space yang kini menjadi ikon wisata lereng Gunung Lawu bukanlah hasil instan. Ia mempelajari karakter wisatawan, potensi alam, perilaku masyarakat, hingga peluang ekonomi yang bisa dikembangkan dari Desa Brubuh.

Dari hasil riset tersebut, kata Danang lahirlah konsep Kayangan Cafe and Space, yang menawarkan destinasi wisata dengan menggabungkan suasana pedesaan, arsitektur tropis-industrial, ruang terbuka hijau, dan pengalaman bersantai yang nyaman.

“Saya menyesuaikan konsep dengan kondisi alam, potensi desa, dan karakter masyarakat. Akhirnya lahirlah konsep Kayangan seperti sekarang,” katanya.

Berdiri sekitar tujuh tahun lalu dengan modal Dana Desa sebesar Rp350 juta, Danang mengatakan dana tersebut digunakan untuk membangun wahana wisata petualangan seperti tubing, ATV, flying fox, hingga kafe.
Namun baru berjalan satu tahun, pandemi Covid-19 menghantam. Seluruh aktivitas wisata terpaksa dihentikan.

Alih-alih menyerah, Ia mengubah strategi untuk fokus pengembangan kafe serta ruang publik yang mengedepankan kenyamanan pengunjung dan memilih menutup wahana petualangan.

Danang juga membeberkan, tanah yang digunakan bukan aset desa melainkan menggandeng pemilik lahan melalui sistem bagi hasil, yakni 20 persen untuk pemilik lahan dan 80 persen untuk BUMDes, yang kemudian dibagi lagi untuk pendapatan desa, dana sosial, dan pengembangan usaha.

Berbeda dengan kebanyakan tempat kuliner, Danang menegaskan bahwa Kayangan tidak menjual makanan sebagai produk utama.

“Kami tidak menjual makanan. Yang kami jual adalah kenyamanan suasana. Makanan bisa ditemukan di mana saja, tetapi membuat orang betah berjam-jam menikmati suasana itu yang menjadi nilai jual kami,” ungkap Danang.

Pada tahap awal pembangunan, Danang bahkan mendatangkan arsitek dari Yogyakarta sebelum akhirnya mengembangkan desain sendiri bersama para tukang lokal. Konsep yang diwujudkan melalui bangunan bergaya tropis-industrial, rumah kaca, ruang berbentuk geometris, area terbuka hijau, playground, hingga lanskap yang dirancang secara detail.

Strategi itu terbukti berhasil, sebagian besar promosi Kayangan justru datang dari rekomendasi pengunjung kepada keluarga dan teman.

“Kami mengandalkan promosi dari mulut ke mulut. Kalau orang merasa nyaman, mereka akan datang lagi dan mengajak orang lain,” katanya.

Mesti omset sudah mencapai Rp. 3 Milyar, Danang menilai angka tersebut masih belum maksimal.

“Tahun lalu omzet sekitar Rp3 miliar. Menurut saya idealnya Rp4 sampai Rp5 miliar agar usaha ini bisa berkembang lebih cepat,” ujarnya.

Selain menghasilkan pendapatan bagi desa, keberadaan Kayangan Cafe and Space juga membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat Desa Brubuh yang saat ini terdapat 35 karyawan.

Di kompleks wisata itu juga tersedia hall berkapasitas 350–500 orang yang kerap digunakan untuk resepsi pernikahan, rapat, hingga berbagai kegiatan komunitas dengan harga yang relatif terjangkau.

Meski sejumlah investor telah menawarkan kerja sama, Danang memilih mengembangkan usahanya secara bertahap. Baginya, membangun perlahan dengan melibatkan masyarakat jauh lebih penting daripada mengejar pertumbuhan cepat.

“Kalau kami membangun sendiri, warga memiliki rasa memiliki dan kebanggaan karena ini hasil kerja bersama. Memang lebih lambat, tetapi fondasinya lebih kuat,” katanya.

Ia mengaku tidak menutup pintu bagi investor. Namun, investasi yang diharapkan adalah pembangunan fasilitas pendukung seperti penginapan dan sarana wisata lain, bukan mengambil alih usaha utama BUMDes. Ia menilai potensi wisata lereng Gunung Lawu di wilayah Ngawi masih sangat besar namun belum dimanfaatkan secara maksimal.

Menurutnya, kawasan tersebut memiliki karakter alam yang tidak kalah dibandingkan wilayah Tawangmangu di Karanganyar maupun Sarangan di Magetan.

“Potensi alamnya sama. Yang perlu dibangun adalah ekosistem pelaku wisata dan kebijakan yang mendukung agar kawasan lereng Lawu di Ngawi berkembang menjadi destinasi wisata yang kuat,” jelasnya.

Sementara itu, Velove pengunjung dari Ngawi Kota, mengaku sudah beberapa kali datang ke Kayangan bersama teman-temannya.

“Tempatnya nyaman, asri, makanannya enak, dan harganya masih murah. Cocok untuk kumpul keluarga, rapat, maupun sekadar bersantai,” ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan Ahsin, yang mengaku telah tiga kali berkunjung.

“Suasananya sejuk, spot foto banyak karena desain bangunannya keren bergaya tropis-industrial. Makanannya memang sederhana khas kampung, tetapi rasanya enak dan harganya sangat terjangkau. Itu yang membuat saya ingin datang lagi,” katanya.