Terbitan.com – Memasuki abad kedua dalam hitungan kalender Hijriyah, Nahdlatul Ulama (NU) berada pada titik balik sejarah yang amat krusial. Muktamar ke 35 NU yang di selenggarakan tanggal 27-31 Agustus 2026 di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang merupakan muktamar NU pertama yang digelar di abad kedua.
Hal ini bukan sekadar rutinitas organisasi lima tahunan untuk memilih jajaran kepengurusan baru. Lebih dari itu, momentum ini menjadi cermin komparatif. Sebuah pembuktian sejauh mana warga NU (Nahdliyin) telah matang dan dewasa dalam menjalankan roda organisasi atau berjamiyyah.
Kedewasaan berjamiyyah pada abad kedua ini menuntut transformasi paradigma. Jika pada abad pertama NU berfokus pada pengokohan fondasi kultural, pelestarian tradisi keagamaan amaliyah, serta perjuangan mengawal kemerdekaan bangsa, maka abad kedua ini membawa tantangan yang jauh lebih kompleks.
Tantangan tersebut meliputi digitalisasi global, pergeseran geopolitik, kemandirian ekonomi umat, hingga kebutuhan akan tata kelola organisasi yang berbasis pada sistem yang modern dan transparan.Tanda utama kedewasaan Nahdliyin yang tecermin dalam muktamar kali ini adalah peralihan dari pola kepemimpinan yang berpusat pada figur (figure-centric) menuju kepemimpinan yang berbasis pada sistem (system-centric).
Warga NU kini semakin sadar bahwa kebesaran organisasi dengan jumlah pengikut ratusan juta jiwa tidak lagi bisa dikelola hanya dengan pendekatan emosional tradisi semata. Diperlukan standarisasi manajemen, penguatan administrasi, serta digitalisasi data keanggotaan dan aset yang rapi.
Kedewasaan ini terlihat dari bagaimana dinamika muktamar tidak lagi melulu meributkan siapa memimpin siapa, melainkan bagaimana program kerja strategis dirumuskan untuk menjawab persoalan umat di akar rumput.
Selain itu, kedewasaan berjamiyyah juga ditunjukkan melalui sikap kemandirian yang semakin kokoh. Di abad ke-2 ini, Nahdliyin dituntut untuk tidak lagi menjadi penonton dalam perputaran ekonomi nasional.
Melalui momentum muktamar, rancangan peta jalan (roadmap) kemandirian ekonomi, penguatan sektor pendidikan tinggi, serta peningkatan layanan kesehatan NU menjadi program prioritas yang digarap secara profesional.
Sikap ini menandakan bahwa NU telah mandiri secara berpikir dan bertindak, mengurangi ketergantungan pada pihak luar, dan memaksimalkan potensi internal jamiyyah yang begitu masif.
Kedewasaan ini diuji dari cara Nahdliyin mengelola perbedaan pendapat di dalam forum muktamar. Perdebatan sengit dalam beberapa sidang pleno, hujan interupsi dan adu argumen dinilai sebagai hal yang sangat lumrah dalam alam demokrasi organisasi, semuanya tetap bermuara pada prinsip sami’na wa atha’na (kami mendengar dan kami taat) terhadap keputusan tertinggi ulama dan sistem yang berlaku.
Sikap legawa, saling menghormati, dan mengedepankan maslahat yang lebih besar di atas kepentingan kelompok adalah bukti autentik bahwa spiritualitas pesantren tetap menjadi ruh utama dalam berorganisasi secara modern.
Muktamar ke 35 ini Pengurus Wilayah NU (tingkat provinsi) & Pengurus Cabang NU (tingkat kabupaten) mengusulkan daftar nama calon ketua umum kepada tim Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) dan Rais Aam terpilih untuk menentukan ketua umum. Sepanjang sejarah hal ini belum pernah terjadi pada muktamar sebelumnya dan merupakan langkah konkret mengesampingkan ego untuk kepentingan jamiyyah yang lebih luas, bentuk kesadaran kolektif bahwa supremasi Syuriyah sebagai pimpinan tertinggi organisasi.
Melalui Muktamar pertama di abad kedua ini, Nahdlatul Ulama mengirimkan pesan kuat kepada dunia. Nahdliyin kini telah bertransformasi menjadi elemen bangsa yang tidak hanya matang secara spritual dan kultural, tetapi juga profesional, mandiri, dan tangguh secara struktural sesuai tema yang di usung ‘Menjaga Marwah Memperkaya Khidmah Untuk Kemaslahatan Bangsa” dan selaras dengan yel-yel yang menggema selama Muktamar “Gembira, Berkah Berkah Berkah, Al Hamdulillah”
Tentu keberhasilan muktamar bukan hanya karena kedewasaan muktamirin tetapi juga karena panitia di semua tingkatan sudah melaksanakan tugas dengan sangat baik dan di dukung penuh oleh keluarga besar pesantren Bahrul Ulum Tambakberas serta doa dari ribuan warga nahdliyin yg hadir di lokasi muktamar secara langsung dan doa yang di panjatkan dari rumah masing².
Atmosfer dan energi positif yang muncul juga diyakini karena “di tunggui” oleh para muassis Nahdlatul Ulama di lokasi Muktamar.
Terpilihnya KH Miftachul Ahyar sebagai Rais Aam & KH Abdul Hakim Mahfudz sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk menyongsong kejayaan NU di abad kedua “Merawat Jagat Membangun Peradaban”
Pujianto
Sekretaris PCNU Kab Ngawi /Muktamir


