PAMEKASAN, terbitan.com – Aksi penolakan terhadap ritel modern kembali terjadi di Pamekasan. Sebuah bangunan yang disiapkan untuk gerai Indomaret di Desa Panaan, Kecamatan Palengaan, diratakan oleh massa, Rabu (7/10/2026) pagi.
Pantauan di lokasi, ratusan massa yang mengatasnamakan santri dan alumni pondok pesantren mendatangi bangunan tersebut sekitar pukul 09.00 WIB. Dengan menggunakan alat berat bulldozer, mereka membongkar bangunan yang masih dalam tahap konstruksi itu setelah melakukan orasi.
Di tengah aksi tersebut, Camat Palengaan, Hasyim Abddurahim, tampak hadir di lokasi kejadian.
“Saya hadir untuk memastikan kondusifitas,” singkat Hasyim saat ditemui di lokasi.
Aksi pembongkaran ini diduga merupakan puncak dari penolakan warga dan tokoh agama setempat. Sehari sebelum kejadian, beredar surat pernyataan sikap yang ditandatangani 14 pengasuh pondok pesantren dan tokoh masyarakat se-Kecamatan Palengaan yang menolak operasional gerai tersebut.
Ancaman aksi juga sempat dilontarkan sebelumnya. Dalam sebuah video yang beredar, perwakilan pondok pesantren, Bahrowi, menegaskan akan menggerakkan santri jika aspirasi mereka tidak direspons.
“Insyaallah kita bertemu dalam perjuangan membela para guru kami yakni pada hari Rabu pagi jam 8 kita bertemu di lapangan,” tegas Bahrowi.
Padahal, polemik pendirian gerai ini sudah muncul sejak tiga bulan lalu. Tim Perizinan Indomaret Madura, Bowo, pada Juli 2026 lalu mengklaim pihaknya telah menempuh prosedur sesuai aturan.
Pihaknya menyebut telah mengantongi legalitas lahan, izin lingkungan, hingga persetujuan warga sekitar.
“Cek sertifikat sudah atas nama sendiri pemilik. Persetujuan lingkungan sudah. 10 orang sekitar gerai menyetujui sudah bersedia tanda tangan. Kepala Desa sudah, mendatangi tokoh ulama terdekat sudah,” ungkap Bowo saat dikonfirmasi 20 Juli 2026 lalu.
Ia menambahkan, proses kerja sama sewa lahan hingga pembangunan baru dijalankan setelah semua persyaratan terpenuhi.
“Baru dibawa ke notaris, lalu dilakukan penyewaan dan pengerjaan. Prosesnya diurus jauh sebelum dibangun,” imbuhnya.
Hingga berita ini ditayangkan, Bupati Pamekasan, KH Kholilurrahman, belum memberikan keterangan resmi terkait insiden pembongkaran paksa gerai ritel tersebut.



