SAMPANG, Terbitan.com – Kabar buruk menyelimuti kegiatan Santunan Anak Yatim Bupati Sampang H. Slamet Junaidi yang biasa digelar satu bulan sekali di Pendopo Trunojoyo Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur.

Pasalnya, selain anggaran yang dikeluarkan Pemerintah Kabupaten (Sampang) melalui Dinas Sosial, kegiatan santunan anak yatim itu juga disukseskan oleh Fasilitator yang memenuhi kebutuhan di luar anggaran pemerintah. Namun, kali ini fasilitator tersebut justru pecah kongsi dan kasusnya menyeret nama Bupati Sampang H. Slamet Junaidi.

Seperti dilansir terbitan.com sebelumnya, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sampang, H. Moh. Anwari Abdullah membenarkan bahwa kegiatan itu juga disukseskan oleh fasilitator organisasi non ASN.

“Kalau masalah donat JCO termasuk konsumsi itu bukan dari Dinsos mas. Tapi murni dari Bapak Bupati,” kata Anwari pada terbitan.com Rabu (16/09/2026) beberapa waktu lalu.

Saat terbitan.com melakukan investigasi lebih dalam organisasi non ASN tersebut terdiri dari banyak orang untuk menyukseskan kegiatan rutin Bupati Sampang tersebut.

Menurut S (Inisial) 33 tahun kepada terbitan.com mengatakan fasilitator kegiatan tersebut di antaranya merupakan AS dan AW yang merupakan orang dekat Bupati Sampang H. Slamet Junaidi.

“AS dan AW dan timnya, mereka yang belanja kebutuhan santunan anak yatim setiap bulan di Pendopo Trunojoyo Sampang sejak beberapa tahun terakhir, terlebih donat JCO,” katanya.

Dia membanarkan, bahwa saat ini keduanya dikabarkan pecah kongsi lantaran diduga tidak terbuka satu sama lain. Ia menduga perpecahan itu disebabkan oleh pengelolaan keuangan yang tidak transparan.

“Yang saya tahu, pemegang keuangannya adalah AW. Sementara AS merupakan pemberi arahan dalam segala kebutuhan kegiatan,” jelasnya.

Selain itu, ia menambahkan bahwa perpecahan diduga disebabkan oleh tanggungan kegiatan yang mestinya sudah lunas. Namun, hingga saat ini tanggungan itu tidak kunjung dilunasi oleh keduanya.

“Yang saya tahu, itu ada tanggungan kegiatan yang sampai saat ini belum juga lunas, sementara seharusnya itu sudah dilunasi, bukan hanya ke saya teman yang lain juga ada,” imbuhnya.

Ia mengatakan bahwa kegiatan itu memiliki tanggungan yang belum juga terlunasi sampai saat ini.

“Selama tahun 2026 yang belum dibayar sekitar Rp.350 Juta, belum lagi yang sisa tahun sebelumnya juga masih belum bayar,” pungkasnya.

Kasus tersebut saat ini menyeret nama Bupati Sampang H. Slamet Junaidi yang dinilai kurang bertanggung jawab atas kegiatan yang diselenggarakannya, banyak pihak berharap kasus yang melibatkan anak yatim tersebut segera terselesaikan.

Sementara hingga berita ini dilansir terbitan.com terus melakukan investigasi lebih dalam mengenai fakta-fakta lain dalam kasus tersebut. Redaksi terbitan.com juga beberapa kali mencoba melakukan konfirmasi kepada Bupati Sampang melalui sambungan seluler. Namun, belum ada jawaban yang dapat diterima.