NGAWI, terbitan.com – Lebih dari 40 hari berlalu sejak kepergian bayi yang baru dilahirkannya, Indah Nur Fitria masih menyimpan satu pertanyaan yang hingga kini belum terjawab: apa penyebab pasti kematian anaknya?
Warga Desa Beran, Kabupaten Ngawi itu mengaku masih menanti penjelasan resmi dari RSUD dr Soeroto Ngawi terkait meninggalnya sang bayi sehari setelah dilahirkan melalui operasi sesar pada 21 April 2026.
Tak hanya mempertanyakan penyebab kematian buah hatinya, Indah juga meluapkan kekecewaan terhadap pelayanan yang menurutnya diterima selama menjalani perawatan di rumah sakit milik pemerintah tersebut.
“Saya hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan anak saya. Sampai sekarang belum ada kejelasan. Saya ingin kematian anak saya terang supaya saya bisa ikhlas,” ujar Indah saat ditemui, Rabu (3/6/2026).
Mengaku Mengalami Body Shaming
Kesedihan Indah bermula bahkan sebelum dirinya kehilangan sang bayi. Ia mengaku mendapat perlakuan yang membuat kondisi psikologisnya terguncang saat menjalani proses persalinan.
Menurut pengakuannya, ada ucapan dari oknum tenaga kesehatan yang dianggap merendahkan kondisi fisiknya.

“Saya merasa mental saya dihancurkan. Ada yang bilang, ‘habis ini diet ya, rekoso banget kita sebagai perawat,” tutur Indah menirukan ucapan yang diterimanya.
Ucapan tersebut, kata dia, masih membekas hingga sekarang karena disampaikan saat dirinya tengah menghadapi proses persalinan yang penuh tekanan.
Bayi Langsung Dipisahkan
Indah mengaku tidak mendapatkan kesempatan melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) maupun menyusui bayinya setelah operasi sesar selesai dilakukan.
Ia masih mengingat suara tangisan bayinya usai dilahirkan sebelum kemudian dibawa ke ruang perawatan bayi.
“Saya masih dengar anak saya menangis. Tapi setelah itu langsung dibawa ke ruang bayi. Saya tidak bisa mendampingi, keluarga juga tidak diperbolehkan masuk,” katanya.
Menurutnya, ia bahkan tidak leluasa melihat kondisi bayinya sendiri selama menjalani masa pemulihan pascaoperasi.
Di sisi lain, Indah juga mengeluhkan pelayanan di ruang perawatan yang menurutnya kurang responsif.
“Saya melihat perawat lebih banyak memegang handphone. Bahkan saat saya di ruang tunggu sadar, saya merasa dibully lagi,” ujarnya.
Bayi Kritis, Lalu Meninggal
Sehari setelah dilahirkan, kondisi bayi Indah disebut memburuk hingga akhirnya harus mendapatkan perawatan intensif di ruang NICU.
Namun upaya medis yang dilakukan tidak berhasil menyelamatkan nyawa bayi tersebut.
“Saya tidak boleh menyusui. Suami saya diminta membeli susu formula.Tengah malam, saya baru diizinkan melihat anak saya dan napasnya tersengal-sengal, kakinya membiru. Saat itu kondisinya sudah kritis,” ungkapnya.
Tak lama kemudian, bayi tersebut dinyatakan meninggal dunia.
Peristiwa itu menjadi pukulan berat bagi Indah dan keluarganya. Namun yang lebih membuatnya terpukul adalah belum adanya penjelasan yang dianggap memadai mengenai penyebab kematian sang bayi.
Pertanyakan Rekam Medis
Upaya mencari jawaban terus dilakukan Indah. Ia mengaku telah meminta rekam medis sebagai bahan untuk mengetahui kondisi anaknya secara lebih rinci.
Namun menurutnya, dokumen yang diterima belum menjawab pertanyaan yang selama ini menghantuinya.
“Saya meminta rekam medis, tapi yang diberikan tulisan tangan. Saya ingin tahu secara jelas penyebab meninggalnya anak saya karena di surat kematian juga tidak dijelaskan secara rinci,” katanya.
Ia juga mempertanyakan perubahan kondisi bayinya yang disebut masih baik pada malam hari, namun beberapa jam kemudian ditemukan dalam kondisi kritis.
“Saya merasa ada yang janggal. Karena itu saya ingin ada penjelasan resmi,” ujarnya.
Indah mengaku tidak menutup kemungkinan membawa persoalan tersebut ke ranah hukum apabila kejelasan yang dinantikannya tak kunjung diberikan.
“Kalau memang tidak ada penjelasan, saya berniat melapor ke polisi. Saya hanya ingin mencari kejelasan untuk anak saya,” tegasnya.
RSUD: Penjelasan Akan Disampaikan Dokter Penanggung Jawab
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Bidang Pelayanan RSUD dr. Soeroto Ngawi, dr. Yeni Rusmawati, mengatakan pihak rumah sakit telah beberapa kali bertemu dengan keluarga pasien.
Menurutnya, rumah sakit tetap berkomitmen memberikan penjelasan terkait kondisi medis bayi yang meninggal tersebut.
“Dari sisi kami sebenarnya pertemuan sudah direncanakan dan pihak keluarga juga sudah pernah kami temui. Hasil laboratorium, diagnosis, dan rontgen sudah ada,” kata Yeni.
Namun, ia mengaku tidak punya wewenang mengenai penjelasan medis lantaran harus disampaikan langsung oleh dokter penanggung jawab pasien.
“Kami masih menunggu dokter Siswanto Basuki yang menangani karena beliau sedang mengikuti sekolah dari Kementerian Kesehatan. Semoga beliau segera bisa meluangkan waktu untuk memberikan penjelasan kepada keluarga pasien,” jelasnya.
Yeni mengakui sekitar tiga minggu lalu dirinya telah bertemu dengan pihak keluarga. Namun hingga kini masih terdapat sejumlah pertanyaan yang ingin dijawab langsung oleh dokter yang menangani bayi tersebut.
Terkait dugaan body shaming yang disampaikan keluarga pasien, Yeni menegaskan perilaku semacam itu tidak dibenarkan dalam pelayanan kesehatan.
“Secara tupoksi dan etika pelayanan, tidak boleh ada body shaming. Kami tidak mengharapkan hal itu terjadi. Ini menjadi bahan evaluasi dan perbaikan pelayanan bagi kami,” tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, keluarga pasien masih menunggu penjelasan resmi dari RSUD dr Soeroto Ngawi mengenai penyebab pasti meninggalnya bayi mereka. Sementara pihak rumah sakit menyatakan penjelasan medis akan disampaikan setelah dokter penanggung jawab pasien dapat bertemu langsung dengan keluarga.


