NGAWI, terbitan.com – Alokasi pupuk subsidi bagi petani di Kabupaten Ngawi pada musim tanam Januari 2025 mengalami penurunan signifikan dibandingkan dengan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) 2024. Dari total kebutuhan pupuk Urea sebesar 45.459 ton, hanya 38.510 ton yang dialokasikan. Sementara itu, pupuk Ponska yang dibutuhkan sebesar 44.747 ton hanya mendapatkan alokasi 26.129 ton. Pupuk organik mengalami penurunan paling drastis, dari 47.463 ton dalam RDKK, hanya 14.437 ton yang dialokasikan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Ngawi, Supardi, menyatakan bahwa penurunan alokasi ini mengharuskan petani untuk mulai beralih ke sistem Pertanian Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PRLB) guna menjaga produktivitas.

“Kekurangan pupuk subsidi solusinya dengan pupuk kompos maupun pupuk mol yang dibuat kelompok tani sehingga bisa dipadukan,” jelas Supardi pada Senin (24/3/2025).
Ia meyakini bahwa dengan menerapkan PRLB, produktivitas pertanian justru akan meningkat secara berkelanjutan.
“Jika tanahnya sehat dan mapan, otomatis hasil produktivitasnya akan semakin baik dari tahun ke tahun. Saat ini, sudah ada 20 ribu hektar lahan yang menerapkan PRLB. Jika semua petani beralih, maka ketergantungan terhadap pupuk kimia bersubsidi akan berkurang,” tandasnya.
Dengan semakin terbatasnya alokasi pupuk subsidi, DKPP Kabupaten Ngawi mendorong petani untuk mengadopsi metode pertanian yang lebih ramah lingkungan dan mandiri dalam penyediaan pupuk.


