NGAWI, terbitan.com – Tumpukan sampah menggunung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Selopuro, Kabupaten Ngawi, kembali menuai keluhan warga. Bau menyengat yang muncul hampir sepanjang hari disebut semakin mengganggu aktivitas masyarakat, terutama warga yang tinggal paling dekat dengan area pembuangan sampah.
Slamet, warga RT 02 RW 02 Dusun Beton, Desa Selopuro, mengaku kondisi saat ini jauh lebih parah dibanding beberapa tahun lalu. Bau sampah kini disebut terasa hingga masuk ke dalam rumah warga dari pagi hingga malam hari.
“Dulu baunya masih dari sebelah selatan sana gak seberapa, sekarang tumpukan sampah sebelah rumah sendiri. Di dalam rumah pun menyengat terus,” ujarnya, Rabu (20/5/2026).
Menurut Slamet, kondisi paling parah terjadi saat tumpukan sampah dibongkar dan ketika musim hujan tiba. Warga merasa serba sulit untuk menyampaikan protes karena persoalan tersebut sudah berlangsung lama dan berdampak hampir ke seluruh lingkungan sekitar TPA.
“Mau protes kita tetap kalah. Kalau sudah mengganggu menyeluruh begini, protes ke siapa? Akhirnya kita cuma diam,” keluhnya.
Warga juga menyoroti keberadaan tandon pengolahan limbah gas metana di area TPA yang dinilai belum mampu mengurangi dampak bau. Bahkan, masyarakat menyebut aroma menyengat justru semakin terasa di sekitar permukiman.
“Katanya untuk limbah gas metana, tapi menurut masyarakat tetap saja baunya paling parah sekali,” tambah Slamet.
Keluhan serupa juga dibenarkan Kepala Desa Selopuro, Sunarno. Ia menyebut banyak warga mengadu terkait bau sampah yang semakin mengganggu dalam beberapa waktu terakhir.
“Memang namanya TPA tetap bau, yang jauh apalagi pas hujan angin baunya pasti menyengat,” ujar kades.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Ngawi, Dodik Aprilasetia, membenarkan kondisi TPA Selopuro saat ini mengalami tekanan akibat tingginya volume sampah yang masuk setiap hari.
Menurut Dodik, pihaknya bahkan telah mendapat teguran dari Gakkum terkait pengelolaan area sisi selatan TPA yang diminta untuk ditutup.
“Kita dapat teguran dari Gakkum, yang sebelah selatan harus ditutup. Makanya kita pindah di sisi utara. Memang area TPA pasti bau, tapi kita sudah datang meminta maaf kepada warga,” ujarnya saat dikonfirmasi.
Ia menjelaskan, petugas telah melakukan berbagai upaya untuk mengurangi bau, mulai dari menutup sampah menggunakan terpal hingga menimbunnya kembali dengan tanah. DLH juga berharap pemerintah desa maupun kecamatan ikut terlibat mengurangi volume sampah rumah tangga melalui pengelolaan sampah organik mandiri.
“Kami minta maaf kepada warga Desa Selopuro. Ini tidak lama, paling lima sampai enam hari baunya,” katanya.
Saat ini, penempatan sampah memang dialihkan ke sisi utara TPA, sementara area selatan dipersiapkan menjadi zona sanitary landfill dengan pemasangan geomembran. Sistem tersebut ditargetkan kembali aktif pada 2027.
“Pak Bupati menargetkan di PAPBD tahun ini sudah mulai dibangun,” kata Dodik.
Ia juga tidak menampik persoalan sampah di Ngawi semakin berat karena TPA Selopuro kini menampung kiriman sampah dari sejumlah wilayah open dumping lain seperti Karangjati, Mantingan, hingga Kendal.
“Sekarang sampah Ngawi mencapai 38 sampai 40 ton per hari, padahal dulu hanya sekitar 30 sampai 33 ton. Karangjati, Mantingan, Kendal, semuanya open dumping. Kontainernya bisa 6 sampai 8 ton. Ngeri sekali sampah Ngawi,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Dodik menyampaikan terus berupaya menekan dampak bau dengan penyemprotan rutin dan pengaturan tinggi timbunan sampah agar tidak melebihi batas.
“Dulu tingginya sampai 15 meter sekarang sekitar 8 meter. Kita semprot terus dan kita ratakan karena masih ada space supaya tidak melebihi tembok pembatas,” pungkasnya.


