PAMEKASAN, terbitan.com – Suasana haru menyelimuti silaturahmi ratusan Relawan BANI Insan Peduli (BIP) se-Madura di Ballroom Hotel Odaita, Pamekasan, Selasa (14/7/2026) malam.
Di hadapan para relawan, pendiri BIP H. Ali Zainal Abidin atau yang biasa dipanggil dengan sebutan Bang Ali menyampaikan wejangan terakhir. Keesokan harinya, Rabu 15 Juli 2026, Yayasan BANI Insan Peduli resmi dibubarkan.
Dalam sambutannya, Bang Ali membacakan 3 ayat Al-Qur’an yang menjadi pesan untuk seluruh relawan.
Ayat pertama QS. Ali Imran ayat 103: _”Wa’tasimū bi ḥablillāhi jamī’an wa lā tafarraqū”_
“Berpegang teguhlah pada tali Allah dan jangan bercerai-berai.”
Bagi Bang Ali, ayat ini adalah pengingat agar ujian sebesar apapun tidak merusak persaudaraan yang sudah terjalin.
“Sebuah gerakan hanya punya ruh jika dibangun di atas keikhlasan dan kebersamaan,” katanya.
Ayat kedua QS. Ali Imran ayat 104: _”Wal takum minkum ummatuy yad’ūna ilal-khairi…”_
“Hendaklah ada di antara kamu golongan yang menyeru kepada kebajikan.”
Ia menegaskan misi kemanusiaan tidak boleh berhenti meski wadah organisasinya berakhir.
“Selama masih ada dhuafa dan anak yatim, panggilan untuk berbuat baik harus tetap hidup di dada relawan,” ujarnya.
Melalui musyawarah panjang pengurus pusat, diputuskan Yayasan BANI Insan Peduli resmi dibubarkan pada 15 Juli 2026.
“Sudah tidak ada lagi nama Bani Insan Peduli. Biarlah nama itu cukup terukir di hati para dhuafa dan anak yatim yang pernah kita bantu,” ucap Bang Ali dengan suara tenang.
Sebagai penutup, ia membacakan ayat ketiga QS. Al-Baqarah ayat 274: _”Allażīna yunfiqūna amwālahum bil-laili wan-nahāri sirraw wa ‘alāniyah…”_
“Orang-orang yang menginfakkan hartanya malam dan siang, sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan…”
Selama hampir 3 tahun, BIP bergerak secara terang-terangan lewat ambulans gratis, santunan, dan aksi sosial. Kini, Bang Ali mengajak para relawan melanjutkan perjuangan di jalan _sirran_ atau sembunyi-sembunyi. Kebaikan yang dilakukan murni hanya untuk Allah.
Bagi Bang Ali, sejarah tidak mencatat seberapa besar nama organisasi, tapi seberapa dalam manfaat yang ditinggalkan.
“Yayasan boleh bubar di atas kertas. Tapi semangat Fastabiqul Khairat di hati relawan se-Madura akan terus menyala,” pungkasnya.


