NGAWI, terbitan.com – Berbeda dengan sejumlah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di berbagai daerah yang programnya tidak terealisasi atau bahkan kandangnya mangkrak, BUMDes Unggul Jaya Abadi Desa Papungan, Kecamatan Pitu, Kabupaten Ngawi justru menunjukkan perkembangan yang menjanjikan melalui pengelolaan unit usaha peternakan kambing.

Program ketahanan pangan (ketapang) Desa Papungan tahun anggaran 2025 ini didukung dana desa sebesar Rp170 juta. Dari jumlah tersebut, Rp100 juta dialokasikan untuk pembangunan kandang, sementara sisanya digunakan untuk pengadaan ternak dan operasional. Menariknya, seluruh kegiatan usaha peternakan ini dikelola secara mandiri oleh pengurus BUMDes tanpa melibatkan tenaga kerja dari luar.

Ketua BUMDes, Rezalianto Kurniawan, saat ditemui di sela-sela proses pembuatan silase, menjelaskan bahwa dirinya bersama pengurus lain berkomitmen penuh dalam memajukan usaha tersebut.

“Perawatan kambing kami kerjakan sendiri. Mulai dari pembersihan kandang, bahkan pakannya dari silase juga kami buat sendiri,” ujar Reza, Selasa (21/4/2026).

Kegigihan Reza bersama dua rekannya menunjukkan hasil. Ia mengaku awalnya belajar membuat silase dari platform media sosial dan sempat mengalami kegagalan, namun tidak menyerah.

“Kami terus mencoba sampai akhirnya bisa,” kata Reza dengan penuh semangat.

Reza juga menuturkan bahwa ketersediaan pakan kini lebih terjamin karena di sekitar kandang telah ditanami rumput gajah, sehingga tidak perlu mencari pakan ke tempat yang jauh.

Ketua Bumdes Rezalianto Kurniawan

“Memang membuat silase itu cukup repot, tapi saat musim kemarau kita jadi tenang karena pakan sudah siap,” ujarnya.

Saat ini, BUMDes telah memiliki 12 tong silase yang membantu meringankan siklus pemberian pakan. Satu tong silase yang telah melalui proses fermentasi selama 21 hari mampu mencukupi kebutuhan 16 ekor kambing.

Meski sempat mengalami kendala pada awal pemberian silase, seperti kambing yang terkena diare, kondisi ternak kini semakin membaik. Dari awalnya kurus, kambing-kambing tersebut kini menunjukkan pertumbuhan yang positif.

Dari sisi ekonomi, usaha ini dinilai cukup menguntungkan. Harga beli kambing sekitar Rp2 juta per ekor, dan setelah empat bulan pemeliharaan dapat dijual hingga Rp3,5 juta.
Bahkan, menjelang Idul Adha saat ini sudah terdapat pesanan (inden) sebanyak empat ekor kambing untuk kebutuhan kurban.

Reza berharap harga kambing di pasaran dapat lebih stabil, “Jika harganya stabil, tentu sangat menjanjikan keuntungan yang masuk ke kas BUMDes. Namun selama ini harganya masih naik turun,” ujarnya.

Upaya ini juga mendapat apresiasi dari Sekretaris Desa Papungan, Danang Iswahyu. Ia menilai pengelolaan yang dilakukan BUMDes sudah berjalan baik dan memiliki potensi untuk terus dikembangkan.
Ke depan, pihak pemerintah desa berencana menggandeng para pemuda untuk ikut bermitra dalam usaha peternakan kambing ini.

“Rencana ke depan, pemuda yang masih memiliki lahan di rumah bisa ikut memelihara kambing. Nanti bisa kita bantu bibitnya dan bagi hasilnya ke BUMDes, sehingga Desa Papungan bisa menjadi sentra kambing,” kata Danang.

Sebagai perwakilan pemerintah desa, ia juga menekankan pentingnya pengelolaan usaha yang transparan dan akuntabel.

“Kalau unit usahanya fokus satu, pengawasannya lebih mudah, laporannya juga lebih cepat. Keluar masuk uang pun harus jelas karena ini menyangkut dana negara,” tegasnya.