NGAWI, terbitan.com– Ambisi besar untuk memiliki ikon wisata desa berujung pada polemik pertanggung jawaban keuangan. Badan Usaha Milik Desa Bersama (Bumdesma) Pondok Jaya Sentosa, yang dibentuk atas inisiatif kepala desa di Kecamatan Bringin, kini menuai tanda tanya besar.

Awalnya, pendirian usaha kolam renang di Desa Gandong dipilih karena saat itu belum banyak pesaing di sekitar Kecamatan Bringin. Tiap desa pun ikut urunan, menyertakan modal dengan jumlah bervariasi, mulai dari Rp20 juta hingga Rp40 juta. Namun, ketika ditanya soal harga tanah yang dibeli, kepala desa justru mengaku tidak tahu-menahu.

“Setiap desa beda-beda modalnya, ada yang sekali, dua kali, bahkan tiga kali penyertaan modal. Tapi soal harga tanahnya, Pak Camat yang lebih paham, kami desa tidak tahu-menahu,” ujar salah satu kepala desa di Kecamatan Bringin.

Pemilihan lahan di Desa Gandong, menurutnya, sudah dipertimbangkan karena dekat dengan Waduk Pondok. Meski akses menanjak dan lahan parkir minim, ada rencana agar wisatawan transit di Desa Dero lalu naik ojek sebagai tambahan pemasukan warga.

Namun, sejak pandemi COVID-19 melanda, usaha kolam renang ini tersendat. Padahal, sudah ada bantuan bangunan senilai Rp1 miliar dari Kementerian Desa. “Kendala saat itu bukan hanya COVID, tapi juga kualitas air yang mengandung kaporit berlebihan. Banyak pengunjung mengeluh kulit gatal dan bersisik,” jelasnya.

Lebih mengejutkan, meski sudah berjalan beberapa tahun, laporan keuangan masih simpang siur. Keuntungan yang diterima tiga tahun lalu hanya Rp500 ribu, yang kemudian kembali dimasukkan ke modal. Hingga kini, belum ada Rapat Anggota Tahunan (RAT) yang jelas dari direktur Bumdesma.

“Dulu dirapel 3 tahun RAT waktu COVID, tapi sampai sekarang belum ada laporan resmi dari Direktur Bumdesma. Harapannya segera dipertanggungjawabkan, apalagi modalnya dari Dana Desa,” tegas seorang kepala desa yang enggan disebutkan namanya.

Menanggapi hal ini, Camat Bringin, Supriyadi, mendesak agar laporan segera disusun dan dipaparkan dalam rapat minggu depan. Bahkan, ia mengusulkan pergantian Direktur Bumdesma demi perbaikan ke depan.

“Perlu diganti dengan yang benar-benar mau kerja keras, jujur, paham administrasi keuangan, dan tidak punya kesibukan lain. Nanti saya koordinasikan dengan para kepala desa,” pungkasnya.

Kini, nasib Bumdesma Pondok Jaya Sentosa ada di ujung tanduk. Akankah wisata impian ini bangkit, atau justru semakin tenggelam dalam ketidak jelasan?