MADIUN, terbitan.com– Pertemuan Himpunan Ahli Rias Pengantin (HARPI) se-Jawa Timur yang digelar di Kabupaten Madiun menjadi momentum penting dalam mempererat silaturahmi sekaligus mendorong pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya di Pendopo Muda Graha. Sabtu (25/4/2026).
Ketua HARPI Melati Kabupaten Madiun, Andar Wati Ning Susanti, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kehadiran para peserta dan undangan yang telah memberikan perhatian terhadap organisasi.
“Kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran Bapak/Ibu semua. Dukungan yang diberikan menjadi semangat bagi kami untuk terus berkembang,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa HARPI Kabupaten Madiun merupakan bagian dari organisasi HARPI pusat yang telah berdiri sejak 1981 di Jakarta. Sejak awal, organisasi ini berfokus pada pelestarian dan pengembangan busana pengantin tradisional dari berbagai daerah di Indonesia.
Menurutnya, HARPI Melati terus berupaya meningkatkan kualitas perias pengantin sekaligus menjaga warisan budaya bangsa melalui karya-karya yang inovatif namun tetap berakar pada tradisi.
Dalam kesempatan tersebut, turut diperkenalkan busana pengantin khas Kabupaten Madiun yang telah dirintis sejak tahun 1995. Karya tersebut telah beberapa kali tampil dalam berbagai ajang, baik di tingkat lokal maupun luar daerah.
“Busana ini pernah dikenakan oleh istri Kapolres Kabupaten Madiun, Ibu Hana Anton, serta turut memperkenalkan potensi wisata daerah hingga meraih prestasi di tingkat Polda Jawa Timur. Selain itu juga pernah dikenakan oleh Ibu Kasat Reskrim, Ibu Danang, dan dimuat dalam Majalah Polda Jatim,” paparnya.
Ia berharap, rancangan busana pengantin khas tersebut dapat segera memperoleh pengakuan resmi sebagai identitas budaya Kabupaten Madiun.
“Kami berharap adanya dukungan dari Bapak Bupati dan dinas terkait agar proses penetapan ini bisa segera terwujud. Kami yakin ini bisa menjadi kebanggaan daerah,” tambahnya.
Ketua DPD HARPI Jawa Timur, Endah Setyowati, menuturkan bahwa pertemuan ini merupakan agenda rutin yang dilaksanakan setiap dua bulan sekali dengan lokasi yang bergantian di seluruh wilayah Jawa Timur.
Ia menekankan bahwa pengesahan busana pengantin daerah membutuhkan dukungan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah.
“Proses menuju pengakuan nasional memerlukan persiapan yang matang, termasuk menghadirkan tim penguji dan budayawan. Untuk itu, dukungan pemerintah sangat diperlukan,” ujarnya.
Ia juga menyebutkan bahwa dari 36 kabupaten/kota di Jawa Timur, sebanyak 27 di antaranya telah memiliki busana pengantin yang terdokumentasi, sementara sisanya masih dalam tahap pengembangan.
Sementara itu, Bupati Madiun, Hari Wuryanto, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut di wilayahnya.
“Kami menyambut baik kehadiran HARPI Melati dari berbagai daerah. Kegiatan ini tidak hanya mempererat silaturahmi, tetapi juga menjadi sarana penguatan ekonomi kreatif,” katanya.
Ia menilai, sektor ekonomi kreatif memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat.
Menurutnya, peran perias pengantin tidak hanya terbatas pada aspek estetika, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga nilai-nilai budaya, khususnya tradisi pernikahan.
“Karya yang dihasilkan para perias pengantin merupakan representasi budaya kita. Karena itu harus terus dikembangkan tanpa meninggalkan kearifan lokal,” jelasnya.
Pemerintah Kabupaten Madiun, lanjutnya, berkomitmen mendukung kegiatan yang berkontribusi terhadap pelestarian budaya dan pengembangan ekonomi kreatif.
“Kunci keberhasilan ada pada kebersamaan dan kolaborasi. Dengan sinergi semua pihak, pelestarian budaya dapat berjalan secara berkelanjutan,” tandasnya.


