NGAWI,terbitan.com – Puluhan penulis dari berbagai usia dan latar belakang profesi mengikuti bimbingan teknis (bimtek) kepenulisan yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Ngawi. Kegiatan ini berlangsung di Gedung Kesenian Ngawi pada Selasa (28/4/2026).

Peserta yang terlibat berasal dari beragam kalangan, mulai dari guru, pegiat literasi, pustakawan, pengelola perpustakaan desa dan sekolah, hingga pelajar tingkat SMP, SMA/MA, serta mahasiswa. Bimtek ini menjadi wadah pembinaan sekaligus penjaringan penulis-penulis pemula di Kabupaten Ngawi.

Sejumlah pakar kepenulisan hadir sebagai narasumber, di antaranya Dr. Tjahjono Widijanto,M.Pd, Kepala SMA Negeri 1 Ngawi yang aktif dalam dunia literasi, Dr.Tengsoe Thahjono,M.Pd, dosen dari Universitas Brawijaya, serta Dr.Sutejo,M.Hum, dosen dari STKIP PGRI Ponorogo. Ketiganya memberikan materi sekaligus pendampingan intensif kepada peserta.

Kepala Bidang Perpustakaan Dispusip Ngawi, Yetty Nilam Sulandriana, menyampaikan bahwa bimtek ini mengangkat tema kepenulisan berbasis konten budaya lokal, dengan fokus pada kuliner dan tradisi khas Ngawi.

“Ini merupakan rangkaian dari tiga kali bimtek. Pertama dilaksanakan pada 21 April lalu untuk penjaringan peserta, kedua hari ini, dan yang ketiga akan digelar pada 12 Mei mendatang,” ujar Yetty usai membuka acara.

Ia menjelaskan, meski di awal pendaftaran sempat sepi, jumlah pendaftar akhirnya mencapai 70 orang dan kemudian diseleksi menjadi 50 peserta terbaik melalui karya tulis yang mereka kirimkan.

“Antusiasme peserta luar biasa, mereka aktif bertanya. Nantinya karya mereka akan dibukukan dalam bentuk antologi dan menjadi koleksi perpustakaan,” tambahnya.

Salah satu peserta, Dwi Eny, mengaku kegiatan ini memberikan pengalaman berharga serta menambah keterampilan dalam menghasilkan tulisan yang baik dan berbobot.

“Di sini kami diajarkan bagaimana membuat tulisan yang menarik. Ini ilmu yang sangat luar biasa bagi saya,” ujarnya.

Dwi Eny yang merupakan guru Bahasa Inggris di SMP Negeri 1 Ngawi ini juga tertarik mengangkat potensi budaya lokal dalam tulisannya. Ia berencana menulis tentang “gantal”, makanan khas Desa Tawun yang hanya dapat dijumpai saat Ahad Legi di pasar tradisional setempat.

Melalui kegiatan ini, Dispusip Ngawi berharap dapat melahirkan penulis-penulis baru yang mampu mengangkat sekaligus melestarikan kekayaan budaya lokal melalui karya tulis yang terdokumentasi dalam bentuk antologi.