NGAWI, terbitan.com — Gedung megah Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Tambakromo di Kecamatan Geneng, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, justru terlihat jauh dari geliat aktivitas perdagangan. Berdiri di pinggir ruas jalan Ngawi-Maospati, koperasi yang telah beroperasi sekitar lima bulan itu kini ibarat hidup segan, mati tak mau.
Pantauan Jumat (14/8/2026), suasana di KDMP Tambakromo tampak sepi. Tiga etalase panjang berwarna merah hanya terisi di bagian ujung. Barang dagangan yang tersedia pun sangat terbatas, mulai minyak goreng, sabun cuci, pasta gigi, beras, gula, kapas, bumbu dapur instan, cairan pel lantai, mi instan hingga sejumlah makanan ringan.
Tak banyak pilihan bagi warga yang datang. Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan harapan besar terhadap keberadaan KDMP yang gedungnya dibangun dengan anggaran hingga miliaran rupiah.
Ketua KDMP Tambakromo, David Trihandoko, mengakui kondisi koperasi yang dipimpinnya masih jauh dari ideal. Omzet bulanan bahkan belum mampu menembus Rp5 juta.
“Omzet kami masih kecil. Belum sampai lima juta dalam sebulan,” ujar David, Jumat (14/8/2026).

Sebelumnya, David menceritakan sempat memanfaatkan teras kantor desa sebagai tempat berjualan. Namun setelah gedung KDMP jadi, Dia memilih menempati gedung KDMP baru sekaligus menjalankan aktivitas penjualan.
” Kami tercatat sebagai satu-satunya koperasi di Kabupaten Ngawi yang sudah menempati gedung KDMP baru dan sudah berjualan namun barangnya terbatas,” jelasnya.
David mengungkapkan, persoalan utamanya adalah modal dan ketersediaan barang. Saat koperasi dibentuk, jumlah anggotanya hanya 68 orang. Pun untuk mengisi etalase, pengurus mengandalkan uang hasil iuran anggota.
“Kami membeli barang dari hasil iuran anggota koperasi,” kata David.
Dari sekian barang yang dijual, kata dia, gas elpiji 3 kilogram dan beras SPHP menjadi komoditas yang paling diburu warga. Sayangnya, pasokannya sangat terbatas.
“Gas elpiji datang cuma hari Jumat, Senin, atau Selasa dan dalam seminggu koperasi hanya dapat jatah 25 tabung. Harga dari agen sebesar Rp16.000 per tabung, kemudian kami jual kepada warga Rp18.000 agar bisa untung,” jelas David.
David menceritakan, kehadiran warga biasanya baru terlihat ketika pasokan gas elpiji dan beras SPHP tiba namun ketika barang yang dibutuhkan warga tidak tersedia, aktivitas koperasi pun ikut meredup sehingga kondisi tersebut memicu jam operasional.
Lantaran belum mampu menggaji penjaga, pengurus koperasi harus bergantian menjaga toko. Akibatnya, KDMP Tambakromo hanya buka sekitar tiga setengah jam dalam sehari, yakni pukul 08.30 hingga 12.00 WIB.
“Kita buka paling setengah hari. Ngapain buka lama karena tidak ada barangnya. Sabtu dan Minggu kami juga libur liat saja etalasenya juga kosong melompong,” tutur David.
Persoalan pasokan barang yang hingga kini juga belum menemukan titik terang. David mengaku tidak mengetahui kapan barang yang dinantikan akan dikirim dari Agrinas ke koperasinya. Selama ini, dirinya lebih sering menerima kiriman barang dari penyedia untuk memenuhi kelengkapan dagangan.
Padahal, koperasi sempat merasakan bagaimana barang bersubsidi mampu mendatangkan pembeli. David menyebut KDMP Tambakromo pernah mendapatkan pasokan minyak goreng bersubsidi dari Bulog Madiun. Namun, pasokan tersebut hanya berlangsung selama dua bulan.
Menurut David, saat itu Bulog menyampaikan bahwa minyak bersubsidi tersebut diperuntukkan bagi pelaku UMKM pasar.
“Padahal yang buat ramai untuk jualan barang bersubsidi,” tegasnya.
Di tengah minimnya barang dan belum jelasnya arah bisnis, David menunjukan sejumlah kendaraan operasional yang terparkir di gudang belakang. Ada truk, pikap, hingga dua unit sepeda motor roda tiga. Kendaraan tersebut, kata Dia telah berada di lokasi selama beberapa bulan, tetapi belum banyak dimanfaatkan.
“Sekarang ndongkrok di dalam. Paling saya hanya panasi dua hari sekali. Karena di gudang isinya kosong mlompong,” ungkap David.
Kondisi ini membuat David bingung menentukan arah bisnis koperasi. Ia menyebut belum mendapatkan arahan yang jelas dari pemerintah pusat mengenai pola usaha dan barang yang akan menjadi andalan KDMP Tambakromo.
Ironisnya, persoalan bukan lagi sekadar bagaimana meningkatkan omzet, tetapi bagaimana membuat koperasi tetap hidup ketika barang yang dijual nyaris tidak ada.
David pun berharap ada kejelasan dari Agrinas mengenai pasokan barang. Terlebih, ia mengaku hingga kini belum mengetahui siapa yang menjadi manajer KDMP Tambakromo.
Untuk sementara, David masih bisa bertahan karena memiliki penghasilan lain sebagai petani. Namun, jika KDMP diharapkan menjadi motor ekonomi desa, kondisi saat ini jelas masih jauh dari harapan.
“Gedung sudah berdiri, kendaraan sudah tersedia, tetapi etalase masih kosong. Koperasinya ada, tokonya buka, namun denyut bisnisnya belum benar-benar terasa,” tutupnya.


