NGAWI, terbitan.com – Nasib pilu harus dialami Sutarji, tukang becak asal Kelurahan Margomulyo, Kabupaten Ngawi. Becak listrik bantuan Presiden Prabowo Subianto melalui Partai Gerindra yang baru beberapa bulan diterimanya, terpaksa dijual demi biaya berobat kanker paru-paru yang dideritanya.
Sutarji yang sehari-hari mangkal di depan Kantor Kemenag Ngawi itu kini harus berjibaku melawan penyakit mematikan sambil tetap mencari nafkah dengan becak kayuh biasa.
Padahal, becak listrik bantuan tersebut sempat menjadi harapan baru baginya untuk bekerja lebih ringan di usia senja. Namun keadaan memaksanya memilih antara mempertahankan becak atau mengejar harapan hidup.
“Jane yo sayang, tapi gimana lagi saya butuh uang buat biaya perjalanan berobat,” ujar Sutarji lirih, Selasa (19/5/2026).
Vonis kanker paru-paru membuat Sutarji harus rutin menjalani kemoterapi di RSUD Dr. Moewardi Solo. Meski biaya pengobatan ditanggung BPJS Kesehatan, ongkos perjalanan dan kebutuhan selama pengobatan tetap menjadi persoalan berat bagi pria sederhana tersebut.
Dalam kondisi terdesak, becak listrik yang masih baru itu akhirnya dilepas dengan harga jauh di bawah nilai sebenarnya.
“Laku Rp500 ribu, tapi gak papa saya ikhlas, namanya untuk ngejar nyawa saat itu,” katanya pasrah.
Sutarji mengaku penyakit yang dideritanya diduga akibat kebiasaan merokok selama bertahun-tahun. Kini ia harus rutin minum obat agar kondisinya tetap stabil.
“Kalau gak minum obat, dada terasa sesak. Tapi Alhamdulillah sekarang sudah agak enakan,” tuturnya.
Cobaan hidup rupanya tak berhenti di situ. Sebelum mendapatkan becak listrik bantuan Presiden, Sutarji juga pernah kehilangan becaknya karena dicuri. Saat itu, seorang ASN Pemkab Ngawi membantu membelikannya becak kayuh agar ia tetap bisa bekerja.
Kini, setelah becak listriknya terjual untuk biaya berobat, Sutarji kembali mengandalkan becak kayuh demi menyambung hidup.
Ia bahkan sempat mencoba kembali mengajukan bantuan becak. Namun harapannya pupus karena namanya dianggap sudah pernah menerima bantuan.
“Katanya gak boleh dapat lagi dengan nama yang sama,” ucapnya sedih.
Di tengah keterbatasan dan kondisi kesehatan yang belum pulih sepenuhnya, Sutarji tetap berusaha ikhlas menjalani hidup. Ia hanya berharap masih ada kepedulian yang datang untuk membantunya kembali memiliki becak agar dapat bekerja lebih layak.
“Ya pingin e dapat becak lagi, meski itu juga gak mungkin,” tutupnya pilu.


