SUMENEP, Terbitan.com — Wacana menjadikan Lapangan Giling di Sumenep sebagai tuan rumah Piala Presiden Karapan Sapi kini menuai kritik tajam. Setelah insiden tragis pada Minggu, 22 Juni 2025, yang merenggut satu nyawa dan melukai tiga penonton akibat robohnya pagar pembatas, publik mempertanyakan kelayakan venue kebanggaan Madura tersebut.
Pagar tembok sepanjang 25 meter dan setinggi 4 meter di sisi timur lapangan roboh saat laga final Karapan Sapi “Pakar Sakera” Piala Bupati tengah berlangsung. Ribuan penonton memadati arena tanpa pengamanan yang memadai. Salah satu korban, Sueb (60), warga Aeng Merah, meninggal dunia usai tertimpa reruntuhan.
“Satu nyawa melayang bukan sekadar musibah, tapi alarm keras bahwa lapangan ini tidak layak digunakan untuk event nasional,” tegas Dayat, anggota YLBH Madura.
Lapangan Giling bukanlah tempat baru. Lokasi ini menjadi saksi sejarah Karapan Sapi Madura. Namun usia lapangan tak dibarengi dengan perawatan infrastruktur. Pagar tembok yang roboh sebelumnya telah terlihat miring, namun tidak mendapat penanganan berarti dari panitia maupun pemerintah.
“Kalau hanya mempertahankan simbol budaya tapi mengabaikan keselamatan, itu sama saja dengan bunuh diri massal,” ujar Dayat
Sebagai event nasional, Piala Presiden Karapan Sapi mengharuskan standar keselamatan tinggi. Acara ini bukan hanya seremonial budaya, tapi juga representasi nama baik bangsa. Jika lokasi yang dipilih justru membahayakan penonton, maka itu bukan sekadar kesalahan teknis melainkan kesalahan fatal.
“Mengundang Presiden ke lokasi rawan bencana itu bukan prestasi. Itu bunuh reputasi nasional,” kritik Dayat.
Menurutnya, jika Pemkab Sumenep bersikeras memaksakan Lapangan Giling sebagai tuan rumah, maka harus ada: Audit struktur total, Rehabilitasi pagar dan fasilitas penonton, Sistem manajemen keselamatan massal, Pembangunan akses evakuasi cepat
“Kalau tidak sanggup, sebaiknya Piala Presiden digelar di tempat lain yang lebih aman. Masih banyak daerah di Madura yang lebih siap,” tegasnya.
Kematian Sueb dan luka-luka yang dialami tiga korban lain menjadi bukti bahwa Lapangan Giling tidak bisa diandalkan. Bahkan panitia sendiri mengakui bahwa pagar yang roboh memang sudah miring sejak sebelum acara dimulai. Lantas mengapa tidak ditutup, diperbaiki, atau dialihkan?
“Kalau kesalahan ini terus ditolerir, Piala Presiden ke depan bisa memakan korban lebih banyak,” ujar Fathorrahman, tokoh masyarakat Sumenep.
Menurutnya, antusiasme warga tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan keselamatan. “Semangat budaya itu penting, tapi lebih penting lagi adalah melindungi jiwa penontonnya,” imbuhnya.
Lapangan Giling mungkin punya nilai historis dan kedekatan emosional bagi warga Madura. Namun, nilai budaya tak boleh berdiri di atas reruntuhan nyawa rakyat
Pemkab Sumenep harus membuka audit terbuka soal kesiapan lapangan
“Kami tidak anti budaya, kami anti kelalaian. Kalau tidak siap, jangan dipaksakan. Jangan korbankan rakyat demi gengsi,” tutup Dayat.


