PAMEKASAN, terbitan.com – Persaingan di industri rokok lokal Madura kian berat. Tapi menurut Owner Ayunda Group, H. Bambang Budianto, musuh utama pabrikan sah saat ini bukan merek besar, melainkan rokok ilegal yang beredar tanpa pita cukai.

Pria yang akrab disapa Haji Bambang ini menilai, pasar rokok sejatinya sudah punya segmen masing-masing. Ada kelas menengah, kelas premium, sampai kelas ekonomis. Konsumen juga sudah paham mau pilih rasa dan harga yang seperti apa.

“Persaingan yang sehat itu wajar. Yang bahaya itu justru rokok tanpa cukai. Itu yang bikin peta persaingan rusak dan merugikan pengusaha yang taat aturan,” tegas Haji Bambang saat ditemui, Selasa (8/9/2026).

Ia mengaku sangat mendukung langkah pemerintah menindak tegas peredaran rokok ilegal. Baginya, operasi “gempur rokok ilegal” harus jadi prioritas agar iklim usaha lebih adil.

Soal kenaikan tarif cukai hasil tembakau, Ayunda Group menganggapnya hal biasa. Menurutnya itu bagian dari penyesuaian kebijakan negara.

“Kenaikan itu lumrah, sama seperti harga BBM yang juga bisa naik. Jangan sampai kenaikan cukai malah dijadikan pembenaran untuk memproduksi rokok ilegal,” jelasnya.

Haji Bambang juga mendorong pemkab agar penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau atau DBHCHT lebih difokuskan untuk pemberantasan rokok ilegal.

“Kita ini usaha di negara yang punya aturan. Regulasi yang ada sekarang justru sangat membuka peluang bagi pengusaha lokal untuk naik kelas seperti pabrik-pabrik besar di Indonesia,” pungkasnya.