NGAWI, terbitan.com – Peserta tes pengisian perangkat desa di Desa Pohkonyal, Kecamatan Pangkur, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur pekan lalu mengaku kecewa dengan kinerja panitia. Pasalnya saat proses seleksi banyak peserta yang menemukan kejanggalan pelaksanaannya.
Beberapa peserta yang dihubungi Terbitan.com mengaku kecewa lantaran pelaksanaan seleksi pengisian perangkat desa dinilai tidak wajar. Beberapa ketidakwajaran itu mulai dari nilai hasil ujian, teknis pelaksanaan ujian, tempat ujian hingga materi ujian yang disodorkan panitia kepada peserta.
“Janggal nilainya (hasil ujian) gak masuk akal. Terlihat banget. Kalau real murni tes, ya gak gitu nilainya,” ujar AL, salah satu peserta tes pengisian perangkat desa. Rabu (26/8/26)
Tak hanya itu, AL juga mendapati kejanggalan terkait soal yang tidak lengkap pilihan gandanya. Kondisi itu mengakibatkan panitia harus mencetak ulang .
AL mengaku kesal ketika mendapatkan informasi ada peserta titipan. Pun, kekesalannya makin menjadi setelah mengetahui peserta yang lulus tes diduga istrinya masih berkerabat dengan kepala desa setempat.
Senada dengan AL, AS menduga pengisian perangkat Desa Pohkonyal diduga ada permainan. Hal itu terlihat dari jawaban soal yang mengambang alias tidak ada jawaban yang benar-benar tepat. AS mengaku optimis dirinya mendapatkan nilai tinggi saat ujian tersebut, lantaran sebelumnya sudah mempersiapkan diri jauh hari dengan belajar materi ujian perangkat desa. Bahkan hasil simulasi tes lewat google beberapa kali yang dilakukan mendapatkan nilai diatas 80.
Namun dirinya heran, setelah melihat hasil ujian tes pengisian perangkat Desa Pohkonyal nilainya hanya dibawah 20 dari seratus soal yang dikerjakan.
“Waktu mengerjakan soal, itu kok pilihan jawabannya (pilihan gandanya.red) kebanyakan mengambang,” ungkap AS.
Selain kejanggalan, AS mendapatkan selintingan desas-desus untuk menjadi kepala dusun membutuhkan biaya sekitar 350 juta. Sementara kepala dusun mencapai 400 juta rupiah. Sama halnya dengan AS dan AL, seorang peserta lain yang enggan disebut namanya melihat ketidakberesan terkait soal ujian yang dibagikan kepada peserta. Beberapa soal yang diterima peserta cacat alias tidak layak.
“Soal itu penting karena menjadi kerahasian . Terlihat konyol soal itu tidak diteliti sebelum dimasukkan dalam amplop untuk penjaringan perangkat desa. Masak sebagai panitia tidak mengkroscek dulu soal yang akan diujikan. Masak soal 100 ada beberapa soal yang print outnya terpotong. Maksudnya sebelum dimasukkan dalam segel soal sharusnya dikroscek dulu keutuhannya dari nomer satu sampai seratus,” ujar peserta tersebut.
Bahkan dirinya melihat ada pergantian soal ditengah pengerjaan. Teknisnya soal ditarik kemudian sama tim penyusun kemudian dibagikan soal yang lain.
“Kita juga tidak tahu soal yang dibagikan kepada yang jadi itu ada tandanya nggak. Karena saya tidak pertama ikut tes perangkat desa. Dan tes di desa ini berbeda dengan pelaksanaan tes di desa lain,”ujarnya.
Ia juga mendapatkan kejanggalan saat menuju tempat ujian, seluruh peserta naik bus. Namun anehnya terdapat satu peserta diperbolehkan naik sepeda motor. Kebetulan peserta yang naik motor itu lulus tes.
Menyoal materi soal terkait pengetahuan umum, dirinya menyayangkan kinerja panitia yang membuat soal tidak profesional. Padahal sesuai peraturan bupati soal yang disampaikan semestinya terkait pengetahuan umum global. Namun dalam soal ditanyakan nama kepala desa pertama di desa tersebut.
Terkait nilai, dirinya melihat kejanggalan hasil ujian. Dari lima orang yang mengikuti tes, empat peserta nilainya dibawah 20 dari seratus soal yang dijawab. Sementara satu orang memiliki nilai 68 dan dinyatakan lolos.
“Kami merasa janggal. Dari segi nilai sangat kebanting seperti itu. Orang kami tesnya berlima terus empat peserta nilainya dibawah 20. Masak empat-empatnya nilai dibawah 20. Kami semua juga belajar. Sementara peserta yang lulusnya nilai bisa mencapai 68. Masaknya dibawah 20 semua kan aneh,” ungkapnya.
Ia menambahkan pelaksanaan tes yang memilih tempat di SMPN 1 Bringin. Padahal banyak tempat di wilayah Kecamatan Pangkur yang layak menjadi tempat ujian pengisian perangkat desa.
Selain itu saat ujian, dirinya mendapati dua pengawas yang berada dibelakang tertidur di kursi. Hal itu menunjukkan kinerja panitia yang tidak profesional mengawasi pelaksanaan ujian pengisian perangkat desa Pohkonyal.
“Satu orang berada di depan dan dua lainnya berada dibelakang namun malah tidur dikursi. Seharusnya pengawas itu profesionalitas dan harus menjaga ketat pelaksanaan ujian,” ujarnya.
Ketua Panitia Seleksi Pengisian Perangkat Desa Pohkonyal, Ego yang dikonfirmasi terpisah membantah tuduhan kejanggalan pelaksanaan tes. Ia mengaku panitia sudah melaksanakan tugas sesuai dengan prosedur dan peraturan yang berlaku.
“Kami sudah melaksanakan tugas sudah sesuai dengan prosedur dan peraturan yang berlaku,” ujar Ego.
Ego juga membantah bila terdapat pengawas yang tidur saat mengawasi pelaksanaan ujian pengisian perangkat desa. Pasalnya saat ujian berlangsung, pengawas berada di lokasi sesuai dengan tugasnya masing-masing.
Ia juga membantah adanya pergantian soal ujian. Sementara seorang peserta yang diperbolehkan naik motor, Ego menjelaskan hal itu diperbolehkan lantaran peserta tersebut sering mabuk perjalanan. Untuk itu diperbolehkan naik sepeda motor tetapi harus beriringan bersama dengan mobil peserta dan dikawal petugas keamanan.
“Terkait kisi-kisi sudah ada bimtek dan pembekalan kepada peserta ujian dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan,” kata Ego.
Sementara itu, Kepala Desa Pohkonyal, Sukirno menyatakan peserta yang lulus perangkat desa bukan bagian dari kerabatnya.
“Bukan saudara saya. Itu saudara dari mana,” kata Sukirno.
Sukirno mengaku sudah melarang kerabatnya untuk mengikuti ujian pengisian perangkat desa. Ia khawatir bila kerabatnya mengikuti ujian akan berdampak kurang bagus pada dirinya. Ia mengungkapkan, lowongan pengisian perangkat desa dibuka dua formasi yakni kaur perencanaan diikuti 11 orang dan kasun diikuti 5 orang.
Saat itu, Ia mempersilakan bagi peserta yang ingin menyanggah hasil ujian dengan waktu satu kali 24 jam. Namun dari waktu yang diberikan tidak ada satupun peserta yang menyanggah hasil ujian tersebut.
“Semua peserta mengiyakan dan menerima (hasil ujian) semua lalu tanda tangan,” kata Sukirno.
Terkait pemilihan tempat ujian di wilayah Kecamatan Bringin, sementara di Kecamatan Pangkur banyak lokasi yang layak, Sukirno berdalih memilih lokasi yang cocok berdasarkan perhitungan yang matang.


