NGAWI, terbitan.com – Petani tembakau di Kabupaten Ngawi mulai memasuki masa panen. Hasil panen awal di sejumlah sentra dinilai cukup baik, sementara harga tembakau rajang kering di tingkat petani kini menembus Rp60 ribu per kilogram untuk kualitas tertentu.

Kabid Perkebunan dan Hortikultura Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Ngawi, Dwi Rahayu Puspitaningrum, mengatakan panen awal tahun ini menunjukkan hasil yang menggembirakan.

“Panen awal tembakau ini cukup baik. Kondisinya bagus dan mudah-mudahan hasil berikutnya semakin optimal,” ujarnya, Minggu (9/8/2026).

Ayu mengungkapkan, Kecamatan Karangjati menjadi salah satu sentra tembakau yang tahun ini ditargetkan luas tanam mencapai 2.000 hektare, dengan estimasi produksi sekitar 3.600 ton.

“Harga tembakau rajang kering saat ini berkisar Rp30 ribu-Rp60 ribu per kilogram, tergantung kualitas dan permintaan pasar,” ungkap Ayu.

Kenaikan harga, kata Dia menjadi angin segar bagi petani, terutama di tengah kondisi kemarau yang dinilai mendukung pertumbuhan tembakau.

Sementara itu, Ketua APTI Ngawi, Sojo, menyebut produksi tahun ini berpotensi mencapai 3.600 ton atau bahkan lebih. Sayangnya, kemitraan dengan industri penyerap tembakau masih terbatas.

“Petani sudah berusaha meningkatkan produksi dan kualitas. Yang dibutuhkan sekarang kepastian pasar,” tegas Sojo.

APTI pun mendorong pemerintah daerah memperluas kemitraan dengan industri pengolahan tembakau. Salah satu yang telah berjalan adalah kerja sama dengan PT Merabu, yang disebut siap menyerap tembakau dari lahan sekitar 100 hektare.

Bagi petani, harga Rp60 ribu per kilogram menjadi kabar manis. Namun tanpa pasar yang kuat, panen melimpah justru bisa menjadi ancaman.

“Kepastian serapan dan harga menjadi kunci agar musim panen tembakau 2026 benar-benar mendongkrak kesejahteraan petani Ngawi,” pintanya.