MADIUN, terbitan.com — Pencak silat Madiun kembali membawa nama Indonesia ke panggung internasional. Sebanyak enam pesilat dan seniman terpilih dari Madiun akan tampil dalam 1st International Pencak Silat Cultural Heritage Festival 2026 yang digelar pada 8–12 Oktober 2026 di De Bron, Amersfoort, Belanda.

Keikutsertaan tersebut merupakan undangan resmi dari Nederlandse Pencak Silat Federatie (NPSF). Delegasi Madiun berasal dari dua sanggar binaan Perguruan Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Winongo Tunas Muda (PSHWTM), yakni Sanggar Satria Krida Manggala dari Kabupaten Madiun dan Sanggar Seni Budaya Sugeng Santoso dari Kota Madiun.

Meski berasal dari dua wilayah administratif, kedua sanggar tersebut membawa akar pakem yang sama. Kehadiran mereka di Belanda sekaligus memperkenalkan identitas Madiun yang selama ini dikenal sebagai “Kampung Pesilat”.

Dalam festival tersebut, delegasi Madiun akan membawakan repertoar bertajuk “The Spirit of Mataraman: Pencak Silat from Madiun”.

Pertunjukan tersebut mengangkat karakter pencak silat Mataraman yang tegas namun tetap santun, sekaligus menonjolkan nilai persaudaraan yang menjadi bagian penting dalam tradisi pencak silat.

Keberangkatan delegasi mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Program Dana Indonesiaraya, serta dukungan strategis dari MIND ID dan Pemerintah Kabupaten Madiun.

Dukungan tersebut memungkinkan delegasi tampil dengan komposisi pertunjukan yang lebih lengkap dalam memperkenalkan seni dan budaya pencak silat Madiun kepada masyarakat Eropa.

Bagi PSHWTM, penampilan di Belanda bukan kali pertama membawa seni silat Madiun ke forum internasional.

Setelah sebelumnya tampil di Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina, pada 2024, keberangkatan ke Belanda menjadi bagian dari kesinambungan syiar dan pembinaan seni pencak silat Madiun di tingkat internasional.

Partisipasi tersebut juga memiliki nilai historis bagi PSHWTM yang menjaga keilmuan Setia Hati yang diajarkan Ki Ngabehi Soerodiwiryo atau Eyang Suro sejak 1903.

Dalam festival di Belanda, delegasi Madiun akan bersanding dengan sejumlah aliran pencak silat dari berbagai daerah Indonesia, di antaranya Harimau Singgalang dari Sumatera Barat dan Panglipur dari Jawa Barat.

Keberagaman tersebut menjadi gambaran bahwa pencak silat Indonesia tumbuh dari berbagai akar budaya dan tradisi Nusantara.

Ketua Sanggar Satria Krida Manggala, Bayu Supriyanto, mengaku terharu bisa membawa nama Madiun hingga ke Eropa.

“Kami ini anak-anak desa dari Caruban. Dulu, bisa tampil di panggung kabupaten saja sudah kami syukuri. Sekarang, membawa nama PSHWTM dan Madiun ke Belanda adalah mimpi yang jadi nyata berkat latihan tekun dan doa orang tua,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Ketua Sanggar Seni Budaya Sugeng Santoso, Iwan Budi Prasetiya.

Menurutnya, keberangkatan bersama antara delegasi dari Kota dan Kabupaten Madiun menjadi bagian penting dalam perjalanan syiar PSHWTM di Eropa.

“Ini adalah bentuk lanjutan syiar PSHWTM di Benua Biru. Keberangkatan bersama dari Kota dan Kabupaten Madiun sebagai satu delegasi membuat langkah ini terasa sangat bermakna,” ujarnya.

Dukungan terhadap keikutsertaan delegasi juga disampaikan Bupati Madiun Hari Wuryanto.

Ia menyebut tampilnya wakil Madiun di Eropa menjadi kebanggaan sekaligus momentum untuk memperkenalkan identitas budaya Kabupaten Madiun kepada masyarakat internasional.

“Ini kebanggaan luar biasa. Saat wakil kami tampil di Eropa, sebutan Kabupaten Madiun sebagai Kampung Pesilat terbukti bukan sekadar slogan, melainkan identitas yang benar-benar hidup dan mendunia,” tegasnya.

Sementara itu, President NPSF Olivier Blancquaert menjelaskan alasan pihaknya mengundang para pesilat dan guru dari Indonesia.

“Kali ini kami membalik keadaan. Jika biasanya pesilat Eropa yang datang ke Indonesia, kini kami mengundang guru-guru dari Indonesia untuk mengisi akhir pekan istimewa di Belanda dengan lokakarya dan peragaan autentik,” jelas Olivier.

Ketua Koordinator Delegasi Indonesia dari Naine Visual Productions, Joened Agung Sumarwan, menilai keberagaman aliran justru menjadi kekuatan pencak silat Indonesia.

“Tugas kami adalah memastikan Indonesia hadir secara utuh. Perbedaan aliran dari Sumatera Barat, Jawa Barat, dan Madiun justru menunjukkan betapa kayanya pencak silat Indonesia karena tumbuh dari banyak akar,” katanya.

Selama lima hari pelaksanaan festival, rangkaian kegiatan tidak hanya berisi pertunjukan pencak silat. Agenda juga mencakup FGD kemitraan strategis, penandatanganan MoU kerja sama kebudayaan, serta kunjungan kehormatan ke KBRI di Den Haag.

Rangkaian tersebut memperlihatkan bagaimana pencak silat dapat menjadi bagian dari diplomasi budaya Indonesia di luar negeri.

Bagi PSHWTM, pencak silat bukan semata-mata kemampuan bela diri. Pencak silat juga menjadi sarana olah jiwa dan pikiran untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Nilai adiluhung dan edipeni luhur nilainya dan indah wujudnya menjadi pesan yang dibawa delegasi Madiun ke Belanda.

Dari Madiun, seni silat tidak hanya dilatih dan diwariskan. Kini, nilai persaudaraan dan budaya Nusantara itu dibawa hingga ke panggung dunia.