SUMENEP, Terbitan.com – Kondisi ruas jalan penghubung antara Desa Bragung, Kecamatan Guluk-Guluk dengan Desa Prancak, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, Madura, terus menuai keluhan. Jalan sepanjang hampir 300 meter itu mengalami kerusakan parah dan tak kunjung diperbaiki, meski sudah bertahun-tahun dikeluhkan warga.
Hasil pantauan di lapangan menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Aspal yang semula membalut jalan kini telah menghilang hampir seluruhnya, berganti dengan lubang-lubang besar yang berubah menjadi kubangan saat hujan turun. Bagi warga, terutama pengguna sepeda motor, melewati jalan ini menjadi tantangan yang membahayakan.
“Sudah lama kami menderita karena jalan ini rusak. Kalau pemerintah benar-benar peduli, seharusnya sudah diperbaiki dari dulu. Kami tidak muluk-muluk minta jalan tol, cukup jalan yang layak dilalui,” keluh Rahman, warga Desa Bragung, Jumat.
Warga menjuluki jalan tersebut sebagai “jalur derita” karena hampir setiap hari ada kendaraan yang tergelincir atau terjebak lubang, terutama saat hujan lebat yang membuat genangan air menutupi lubang-lubang besar. Akibatnya, insiden kecelakaan ringan sudah menjadi pemandangan biasa.
Dayat Anggota YLBH, mengungkapkan kekesalannya terhadap lambannya respon pemerintah. Menurutnya, jalan itu sangat vital karena menjadi satu-satunya akses warga ke berbagai fasilitas umum seperti sekolah, puskesmas, dan pasar.
“Ini jalan utama kami. Sudah bertahun-tahun rusak tapi belum ada perbaikan serius. Apa harus ada korban jiwa dulu baru pemerintah turun tangan?” tegas Dayat.
Ia berharap pemerintah daerah segera merespons keluhan masyarakat dan memperbaiki jalan tersebut tanpa harus menunggu desakan lebih lanjut.
“Jangan karena kami tinggal di desa, lalu dianggap tidak penting. Jalan ini urat nadi masyarakat di sini, dari anak-anak sekolah sampai para pedagang setiap hari lewat sini,” imbuhnya.
Dayat juga menegaskan bahwa jika kondisi jalan terus dibiarkan, bukan hanya aktivitas ekonomi yang akan terganggu, tapi juga akan mematahkan semangat masyarakat untuk terus berkembang.
“Kami butuh bukti nyata, bukan sekadar janji. Semoga pemerintah segera bertindak,” pungkasnya.
Upaya konfirmasi ke kepala desa masih kesulitan.


