SUMENEP, Terbitan.com– Ribuan warga memadati kediaman almarhumah Hj Ainun Bani di Kampung Arab, Pangarangan, Sumenep, Madura, Jawa Timur, dalam rangka memperingati 40 hari wafatnya beliau pada Sabtu (01/02/2025). Fenomena ini menarik perhatian banyak pihak, mengingat almarhumah bukan seorang tokoh masyarakat, agama, atau politik.
Sejak waktu Maghrib, warga sudah mulai berdatangan meskipun acara tahlilan baru dimulai setelah salat Isya. Kehadiran mereka bukan hanya sebagai bentuk doa, tetapi juga ungkapan rasa hormat dan cinta kepada almarhumah yang diketahui merupakan ibu dari pengusaha muda, Ali Zainal Abidin Syabibi.
Bagi warga Sumenep, fenomena ini tergolong langka. Biasanya, tahlilan dalam skala besar seperti ini hanya dilakukan untuk tokoh masyarakat atau pemuka agama. Namun, kali ini, kediaman Hj Ainun Bani dipenuhi oleh ribuan warga, bahkan hingga ke area El-Malik, Jalan HOS Cokroaminoto.
Salah satu warga yang hadir, Miqdad, mengaku terharu melihat banyaknya orang yang datang.
“Betapa bahagianya orang tua memiliki anak yang dermawan dan peduli terhadap ibunya, bahkan setelah wafat,” ucap miqdad.
Ia menambahkan bahwa tahlilan ini bukan hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga sosial, karena pihak keluarga menyediakan berbagai suguhan bagi warga yang hadir.
“Tuan rumah benar-benar memuliakan tamu. Selain makanan, mereka juga memberikan uang, sarung, dan bahan pokok lainnya,” tuturnya.
Ali Zainal Abidin Syabibi, anak dari almarhumah Hj Ainun Bani, dikenal sebagai pengusaha muda yang dermawan. Sejak hari pertama wafatnya sang ibu pada 22 Desember 2024, rumah duka tidak pernah sepi dari pelayat yang datang untuk mendoakan.
Menurut seorang tokoh masyarakat setempat, apa yang dilakukan Ali adalah bentuk bakti seorang anak kepada orang tuanya, baik semasa hidup maupun setelah wafat.
“Mendoakan orang tua setelah mereka tiada adalah salah satu bentuk bakti yang paling mulia. Dan Ali telah menunjukkan bahwa ia bukan hanya sukses secara materi, tetapi juga memiliki kepedulian yang tinggi terhadap sesama,” ujar H. Mahfud, salah satu tokoh agama di Sumenep.
Tak hanya sekadar doa bersama, pihak keluarga juga menyediakan suguhan yang jarang ditemukan dalam tahlilan pada umumnya. Selain makanan, setiap warga yang hadir diberikan uang tunai sebesar Rp50 ribu, sarung, serta bahan pokok seperti beras dan gula.
Hal ini membuat suasana tahlilan terasa lebih hangat dan penuh berkah. Seorang warga bernama Taufiq mengungkapkan kekagumannya terhadap kedermawanan keluarga almarhumah.
“Saya baru pertama kali melihat tahlilan sebesar ini. Selain doanya yang khusyuk, tuan rumah juga benar-benar memuliakan tamu,” katanya.
Tak heran jika sejak malam pertama tahlilan hingga hari ke-40, jumlah warga yang datang tidak pernah berkurang. Bahkan, menjelang hari ke-40, jumlahnya justru semakin membludak.
Karena membludaknya warga yang hadir, pihak keluarga meminta bantuan kepada aparat kepolisian untuk menjaga ketertiban.
“Mohon pak polisi menyambut warga dengan baik. Mereka datang dengan niat baik untuk mendoakan ibu saya,” pinta Ali Zainal Abidin kepada APH yang bertugas di lokasi.
Dengan sigap, aparat kepolisian pun mengatur arus lalu lintas dan membantu mengelola jalannya acara agar tetap kondusif. Tidak hanya itu, beberapa relawan juga dikerahkan untuk membantu penyediaan konsumsi bagi warga yang hadir.
Di akhir acara, salah satu kerabat almarhumah menyampaikan harapan agar segala kebaikan yang dilakukan dapat menjadi amal jariyah bagi Hj Ainun Bani.
“Semoga segala doa yang dipanjatkan untuk almarhumah diterima di sisi Allah SWT. Dan semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari acara ini, bahwa kebaikan akan selalu dikenang,” ujar kerabat tersebut dengan suara bergetar.
Tahlilan 40 hari ini bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga menjadi bukti bahwa kebaikan seorang ibu akan terus dikenang melalui anak-anaknya. Ali Zainal Abidin Syabibi telah menunjukkan bahwa kesuksesan sejati bukan hanya diukur dari harta, tetapi juga dari seberapa besar kita bisa berbagi dan berbakti kepada orang tua.


