SANANA, Terbitan,com || Terkait diskusi seminar Festival Tanjung Waka (FTW) 2023 di Desa Fatkauyon, Kecamatan Sulabesi Timur, Kabupaten Kepulauan Sula (Kepsul) Maluku Utara akan dilakukan seminar berikutnya
Hal ini disampaikan Plt. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Ismail Soamole, saat dikonfirmasi melalui pesan Whats App..di..nomor+62 812-1264 – xxxx, Selasa (7/11/23)
Menurut Ismail, Seminar yang dilaksanakan itu bukan akhir, namun akan dilakukan seminar berikutnya sepanjang belum mendapatkan hasil yang lebih baik untuk semua kalangan
” Jadi disarankan kepada semuanya yang terlibat diskusi untuk tidak memunculkan cara seolah-olah yang paling benar, maka saya yakin sampai kapanpun tidak akan selesai selesai, “tindasnya
Ketahui, Diskusi seminar Festival Tanjung Waka (FTW) pada 4 November 2023 kemarin yang bertempat di Stay Home Tanjung Waka, kata Naipon Ali, selaku Staf Khusus Bupati Kepulauan Sula, Fifian adeningsi Mus yang tinggalkan ruangan itu yang dihadiri oleh Toko Agama, Toko Adat, Toko Masyarakat, Toko Pendidikan dan Akademi serta wakil dubes Spanyaol.
Naiopon Ali, menjelaskan, bahwa kajian tentang pakean adat sula dan bahasa sula, termasuk kajian ilmiah yang akademis sebagai contoh di tahun 1961, Mentri PTIP(PDK), Prof, Dr, Priyono telah membentuk team pengkajian tentang bahasa sula yang dipimpin oleh Prof, Dr, Slamet Mulyono dan Prof Halim Amrullah, Namun hasilnya nihil.
“Karena lanjutnya, bahasa sula tidak termasuk rumpun bahasa Austronesia dan bahasa sula berdiri sendiri, dipertanyakan oleh para pakar bahasa dunia” berasal dari nenek moyang manakah bahasa sula itu,”ucapnya.
Maka jelasnya lagi, para pemateri harus punya segudang ilmu yang punya rekam jejak sebagai tokoh pendidikan, bukan asal asalan.
Salah seorang pemateri yang mengangkat tentang bahasa sula yang berkiblat pada bahasa Figudu, Falahu, Fatce, tanpa menyebut bahasa Mangon, Naipin Ali menyebutnya ini seminar asal asalan atau seminar jadi jadian.
Ketengangan memuncak setelah seorang pemateri menjelaskan pakean adat sula yang berkiblat pada pakean adat ternte, dibantah keras oleh Julri Duwila selaku peserta, dari sinilah ada pesrta yang pingsan dan Naipon ali menganggap seminar yang gagal dan tinggalkan ruangan.
Kepada Naipon Ali, Kami tanyakan bagaiman kalau hasil seminar itu, tetap dibawa ke DPRD untuk disahkan, Naipon Ali menjawab singkat “Itu Petaka” yang berujung musibah dan pasti DPRD menolaknya, “tindasnya.


