NGAWI, terbitan.com — Program pemenuhan gizi masyarakat kembali menuai keluhan. Kali ini, warga di sekitar SPPG Karangjati 2, Desa Karangjati Ngawi Jawa Timur resah akibat air limbah dapur yang dibuang ke selokan terbuka.
Bukan hanya membuat selokan berubah warna dan mengeluarkan bau tak sedap, kondisi tersebut juga dikeluhkan warga karena memicu munculnya lalat di sekitar permukiman.
Pantauan di lokasi, SPPG yang berada di bawah Yayasan Cinta Surga Indonesia dan letaknya tak jauh dari Polsek juga Kantor Kecamatan itu air limbah dapurnya tampak berwarna putih menggenangi selokan yang berada tak jauh dari rumah warga. Aroma tak sedap tercium dari aliran tersebut.
Persoalan tak berhenti pada air limbah. Sisa makanan yang lolos dari penyaringan juga terlihat mengendap di dasar selokan hingga membuat sebagian air berubah kehitaman dan menyebabkan kerumunan lalat.
Kondisi itu disebut warga telah berlangsung sekitar dua hingga tiga bulan terakhir, sejak dapur SPPG beroperasi.
“Kami merasakan bau tidak sedap dari air limbah dapur MBG dalam dua hingga tiga bulan terakhir,” kata SH, warga Karangjati yang tinggal di dekat dapur SPPG Karangjati 2, Rabu (16/9/2026).
Menurut SH, warga sebenarnya telah melaporkan persoalan tersebut kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Ngawi pada Rabu (9/9/2026). Dua hari kemudian, tim DLH turun ke lokasi untuk melihat kondisi secara langsung.
Namun, kedatangan petugas tersebut belum membuat persoalan limbah selesai. Warga mengaku belum mendapatkan solusi konkret mengenai pembuangan limbah dapur yang menimbulkan bau.
“Belum ada pendekatan dari pihak dapur MBG kepada warga terkait limbah dapur yang menimbulkan bau tidak sedap,” ujarnya.
SH mengatakan kondisi selokan semakin terasa mengganggu ketika musim kemarau. Sebelumnya, selokan cenderung kering karena tidak ada aliran air.
Namun setelah dapur SPPG beroperasi, muncul aliran air kotor yang diduga berasal dari aktivitas dapur.
Warga berharap pengelola tidak sekadar mengandalkan saluran pembuangan, tetapi segera memperbaiki sistem pengolahan air limbah atau IPAL.
“Kami minta dapur MBG segera memperbaiki IPAL dapurnya. Dengan demikian air limbah yang dibuang ke selokan tidak menimbulkan bau tidak sedap,” tegasnya.
Warga juga meminta selokan yang telah tercemar sisa limbah dibersihkan. Sebab, menurut SH, memperbaiki sumber limbah tanpa membersihkan endapan yang sudah terlanjur menumpuk di selokan dinilai tidak akan menyelesaikan persoalan.
“Percuma juga dari pusatnya dibersihkan tetapi selokannya tidak dibersihkan. Apalagi kotorannya sudah mengendap,” tuturnya.
Keluhan serupa disampaikan IJ, seorang ibu rumah tangga yang rumahnya berada di dekat selokan. Ia mengaku bau limbah bahkan masuk ke dalam rumah.
“Kalau angin berhembus, bau limbahnya sampai ke dalam rumah,” jelas IJ.
Menurutnya, air limbah yang masuk ke selokan tampak berwarna putih dan berbuih. Kondisi tersebut membuat warga terganggu, terutama karena selokan berada dalam kondisi terbuka.
“Meski pintu dan jendela rumah ditutup, bau limbah tetap tercium. Kami sampai malu kalau ada tamu datang karena mereka juga mengeluh. Tetapi kadang baunya hilang,” katanya.
Untuk mengurangi bau, IJ meminta pengelola tidak lagi mengalirkan limbah dapur langsung ke selokan. Ia mengusulkan limbah diangkut menggunakan mobil tangki untuk disedot sehingga tidak mencemari saluran di depan rumah warga.
Sementara itu, Kepala Dapur SPPG Karangjati 2, Isna, saat dikonfirmasi di tempat kerjanya memilih tidak menemui wartawan untuk memberikan penjelasan terkait persoalan pembuangan limbah tersebut.
Penanggung jawab SPPG Karangjati 2, Maihdha Munsyi, yang ditemui terpisah mengatakan pengelola sebenarnya telah berupaya mengurangi bau dari limbah dapur.
Pihaknya mengaku telah menambah sejumlah peralatan, termasuk dua alat dengan nilai mencapai puluhan juta rupiah. Selain itu, dua alat penyaring juga ditambahkan sebelum limbah masuk ke instalasi pengolahan air limbah (IPAL).
Namun, penambahan peralatan tersebut diakui belum sepenuhnya menghilangkan bau yang muncul ketika limbah dibuang ke selokan.
Maihdha juga membenarkan tim DLH telah mendatangi SPPG Karangjati 2. Dalam kunjungan tersebut, pengelola disebut mendapat saran untuk kembali menambah alat penyaring serta memperbesar kapasitas penampungan limbah sebelum masuk ke IPAL.
“Dari Dinas LH menyarankan agar menambah alat penyaring dan penampungan limbah diperbesar sebelum masuk ke IPAL,” kata Maihdha.
Saat ini, SPPG Karangjati 2 memiliki penampungan limbah berkapasitas sekitar dua meter kubik. Namun kapasitas tersebut dinilai perlu diperbesar.
Ironisnya, Maihdha mengaku telah meminta petugas membuang limbah pada malam hari karena aktivitas warga di luar rumah relatif lebih sedikit.
“Saya sudah sampaikan agar dibuang pada malam hari. Tetapi namanya relawan terkadang memproses (pembuangan limbah) saat siang hari,” jelasnya.
Saat ditanya alasan limbah dibuang ke selokan, Maihdha mengatakan pihaknya meyakini IPAL yang dimiliki mampu meminimalkan bau.
Menurut dia, selama sekitar dua pekan pertama setelah beroperasi, sistem IPAL dinilai mampu mencegah munculnya bau menyengat dari limbah dapur yang dialirkan ke selokan.
“Bahkan sesuai petunjuk pelaksanaan BGN, IPAL kami sudah sesuai dan memenuhi persyaratan,” ujarnya.
Namun fakta bahwa warga masih mengeluhkan bau dan keberadaan limbah di selokan menunjukkan persoalan di lapangan belum sepenuhnya selesai.
Terkait permintaan warga agar selokan dikeruk dan dibersihkan dari sisa limbah dapur, Maihdha mengklaim pihaknya telah melakukan pembersihan sebanyak dua kali.
Kendati demikian, saat dilakukan pembersihan lebih dalam, petugas disebut menemukan banyak sampah dedaunan yang berada di dalam selokan.
Pengelola juga mengaku menghadapi kendala keselamatan saat hendak mengeruk bagian selokan yang lebih dalam. Petugas khawatir menghadapi risiko seperti digigit ular apabila nekat mengangkat seluruh tumpukan sampah.


