SUMENEP, Terbitan.com – Kapolres Sumenep AKBP Henri Noveri Santoso menunjukkan komitmennya terhadap perlindungan hukum bagi tenaga pendidik dengan memberikan bantuan kepada Muhammad Noeruddin (52), seorang guru asal Desa Pajenangger, Kecamatan Arjasa, Pulau Kangean. Insiden tragis pembakaran sepeda motor yang dialaminya telah memicu perhatian publik, khususnya setelah kasus ini viral.

Dalam pertemuan yang berlangsung di ruang kerja Kapolres Sumenep pada Selasa (28/01/2025), AKBP Henri menyerahkan bantuan secara simbolis kepada korban. Acara ini turut dihadiri Wakapolres, Kabag SDM, Kasat Reskrim, Kapolsek Kangean, Camat Arjasa Aynizar Sukma, serta tokoh masyarakat (Tomas) Arjasa.

“Kami berkomitmen melindungi dan memberikan dukungan kepada guru-guru yang menjalankan tugas mulia mereka. Kejadian seperti ini tidak boleh terulang,” tegas Kapolres Henri.

Menurutnya, Muhammad Noeruddin adalah simbol perjuangan seorang guru yang tetap menjalankan tugasnya meski dihadapkan pada ancaman serius. Henri juga menekankan bahwa tindakan pelaku harus direspons dengan tegas demi memastikan keadilan ditegakkan.

Peristiwa ini bermula pada Senin (13/01/2025) sekitar pukul 13.30 WIB. Sepeda motor milik Muhammad Noeruddin dibakar di depan rumahnya oleh seorang pria berinisial AQ (19), warga Dusun Bugis, Desa Pajenangger. Tidak hanya itu, AQ juga melakukan pengancaman dengan menggunakan senjata tajam.

Bergerak cepat, Polsek Kangean langsung mengamankan AQ pada Selasa (14/01/2025). Kapolres Henri mengapresiasi kinerja anggotanya yang bertindak responsif dalam menangani kasus ini. AQ kini dijerat dengan sejumlah pasal, yaitu Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Darurat RI Nomor 12 Tahun 1951 tentang kepemilikan senjata tajam tanpa izin, Pasal 406 ayat (1) KUHP tentang pengrusakan barang, serta Pasal 335 ayat (1) ke-1 KUHP terkait perbuatan tidak menyenangkan.

“Pelaku terancam hukuman hingga 10 tahun penjara. Ini menjadi peringatan bahwa setiap tindakan kekerasan akan mendapatkan konsekuensi hukum yang tegas,” ujar Kapolres.

Dalam pertemuan tersebut, Kapolres juga memberikan motivasi kepada Muhammad Noeruddin agar tetap semangat menjalankan tugasnya sebagai seorang pendidik.

“Guru adalah pilar bangsa. Kami akan terus mendukung dan melindungi mereka dari berbagai bentuk ancaman,” ucap Henri.

Muhammad Noeruddin mengaku sangat bersyukur atas perhatian dan dukungan yang diberikan.

“Saya sangat berterima kasih kepada Kapolres dan jajaran. Ini memberikan saya semangat baru untuk terus mengajar,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Camat Arjasa, Aynizar Sukma, turut menyampaikan rasa terima kasih kepada Kapolres Sumenep atas perhatian yang diberikan kepada warganya.

“Kami sangat mengapresiasi langkah cepat Kapolres dan jajarannya. Semoga tidak ada lagi kasus serupa yang menimpa guru-guru lainnya,” tutur Aynizar.

Kasus ini menjadi pengingat pentingnya penghormatan terhadap profesi guru. Camat Arjasa berharap masyarakat lebih menghargai dan melindungi mereka yang berperan besar dalam mencerdaskan generasi muda.

Sementara itu, Kapolres Henri menegaskan pihaknya akan terus memperkuat sinergi dengan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang aman, khususnya bagi para tenaga pendidik.

“Kita harus bersama-sama menjaga keamanan dan menghormati profesi mulia ini. Guru bukan hanya mengajar, tapi juga membangun masa depan,” pungkasnya.

Insiden yang dialami Muhammad Noeruddin menyoroti pentingnya keadilan dan perlindungan bagi tenaga pendidik. Langkah tegas yang diambil Polres Sumenep menjadi wujud nyata komitmen dalam menjaga hak dan martabat para guru.