MADIUN, terbitan.com – Romo Cokro Witjaksono, pengasuh Pondok Siswo Raharjo Caruban, Madiun, dikenal luas sebagai seorang guru spiritual yang membimbing banyak murid dalam pencarian ilmu kebijaksanaan dan kearifan budaya. Selain itu, beliau juga mempunyai kepedulian besar terhadap pelestarian warisan budaya Nusantara, khususnya dalam dunia perkerisan.  

Dalam upaya menjaga tradisi pembuatan keris di Mageti, Romo Cokro Witjaksono bersinergi dengan Teguh Budi Santoso lebih dikenal dengan nama Mpu Aji Guna Anom yang saat ini dipercaya sebagai Mpu era Mageti V. Mpu Aji Guna Anom tinggal dan berkarya di besalen (tempat pembuatan keris) yang terletak di Brangkal, Tegalrejo, Mageti, wilayah administrasi Desa Kedungpanji, Kecamatan Lembeyan.  

Mpu Aji Guna Anom bukanlah sebuah tempat yang sembarangan. Ia merupakan putra dari Paku Rodji, seorang Mpu yang juga berasal dari garis keturunan panjang perkerisan Nusantara. Sang ayah merupakan keturunan ke-16 dari Mpu Supodriyo, seorang empu ternama dari era akhir Majapahit yang merupakan keturunan dari Dewi Rasa Wulan, adik Sunan Kalijaga.  

Dengan keilmuan dan ketekunan yang diwariskan dari generasi ke generasi, Mpu Aji Guna Anom bersama Romo Cokro Witjaksono berusaha menjaga nilai-nilai tradisi pembuatan keris, baik dari aspek spiritual maupun teknis. Keris bukan sekadar senjata pusaka, tetapi juga memiliki filosofi mendalam yang mencerminkan perjalanan hidup dan keahlian leluhur.  

Sebagai pengasuh Pondok Siswo Raharjo, Romo Cokro Witjaksono tidak hanya membimbing para santri dalam hal spiritual, tetapi juga mengajarkan pentingnya melestarikan warisan budaya Nusantara. Kolaborasi beliau dengan Mpu Aji Guna Anom diharapkan mampu menghidupkan kembali kejayaan perkerisan Mageti serta menanamkan kecintaan generasi muda terhadap budaya adiluhung bangsa.