Oleh: Moch Thoriqil Akmal B, S H
Setiap kali musim hujan tiba, kita seperti mengulang siklus yang sama. Hujan turun deras beberapa jam, air menggenang di sejumlah titik, lalu linimasa media sosial penuh keluhan. Tak sedikit dari netizen, khususnya di daerah seperti Sumenep, yang langsung menyimpulkan bahwa ini adalah “bencana besar”, “tanda kegagalan pemerintah”, atau bahkan menyebutnya sebagai “azab”. Padahal, kadang genangannya hanya setinggi mata kaki dan surut tak sampai satu jam.
Yang menarik, ketika kita menengok ke Kota Sampang sebuah wilayah di Madura yang terkenal sebagai langganan banjir setiap tahun, respon masyarakatnya jauh lebih tenang dan realistis. Mereka tidak heboh di facebook, tidak marah-marah di tiktok, tidak membuat drama seolah dunia akan kiamat karena banjir. Padahal, kondisi banjir di sana jauh lebih parah dan lebih rutin. Jadi, mengapa reaksi masyarakat bisa begitu berbeda? Mengapa netizen Sumenep terkesan begitu “lebay” dalam menghadapi genangan air?
Perlu kita sadari bersama bahwa banjir, dalam banyak kasus, adalah fenomena alam yang lumrah terjadi, apalagi di negara tropis seperti Indonesia. Curah hujan tinggi, perubahan iklim global, kerusakan lingkungan, dan pertumbuhan pemukiman tanpa perencanaan matang sering kali menjadi pemicu utamanya. Tapi harus diingat, tidak semua banjir adalah hasil dari kelalaian manusia semata.
Dalam konteks keimanan, hujan adalah berkah. Ia adalah air kehidupan. Tanpa hujan, kita akan kering, gagal panen, dan kekurangan air bersih. Namun ketika hujan turun dalam jumlah besar dan waktu singkat, air itu tak sempat terserap atau mengalir sempurna, lalu melimpah ke jalan dan rumah. Apakah ini serta merta menjadi alasan untuk panik? Tentu tidak.
Justru inilah momen untuk introspeksi, apakah kita sudah siap secara infrastruktur? Apakah drainase di sekitar kita berfungsi baik? Apakah sungai-sungai bebas dari sampah? Atau justru kita sendiri yang tak peduli selama ini?
Dalam masyarakat digital, segala hal bisa menjadi konten. Termasuk banjir. Dan di sinilah letak persoalan sebenarnya. Alih-alih bersikap bijak, sebagian besar netizen justru menjadikan banjir sebagai bahan untuk menciptakan drama dan sensasi. Tidak sedikit dari mereka yang mengambil foto atau video genangan kecil lalu memberi narasi berlebihan: “Sumenep tenggelam!”, “Ini kerja siapa?”, atau “Pemkab kemana?!”
Tanpa konfirmasi, tanpa data, tanpa analisis, semua dibanjiri opini emosional. Bahkan banyak konten yang tidak menggambarkan kondisi nyata secara proporsional. Inilah yang disebut sebagai banjir framing ketika netizen menggiring opini publik seolah-olah sedang terjadi bencana besar, padahal kenyataannya tidak demikian.
Bandingkan dengan masyarakat Sampang. Hampir setiap tahun mereka kebanjiran, terutama di sekitar Kota Sampang yang dekat dengan aliran Sungai Kemuning. Namun kita jarang melihat warga Sampang mengeluh berlebihan di media sosial. Mereka tahu bahwa banjir itu bagian dari kondisi geografis dan keterbatasan infrastruktur yang belum selesai ditangani. Mereka juga tahu bahwa bukan dengan marah-marah di medsos masalah itu selesai, tapi dengan aksi nyata, gotong royong, dan komunikasi langsung kepada pemangku kebijakan.
Lantas, mengapa netizen Sumenep begitu heboh? Bisa jadi karena mereka belum terbiasa menghadapi situasi seperti itu. Atau bisa jadi, karena budaya konsumsi informasi mereka memang lebih tinggi dibanding budaya mencari solusi.
Tentu saja, setiap warga negara berhak menyampaikan keluhan. Banjir, meski ringan sekalipun, tetap menimbulkan ketidaknyamanan. Jalan jadi licin, motor mogok, aktivitas terganggu. Tapi keluhan yang baik adalah keluhan yang berujung pada saran dan solusi, bukan sekadar caci maki.
Kita perlu mengingat bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah. Menjaga saluran air tetap bersih, tidak membuang sampah sembarangan, dan memastikan tidak ada bangunan yang menutup drainase adalah tanggung jawab bersama. Apa artinya marah-marah karena banjir, jika kita sendiri belum pernah membersihkan got di depan rumah?
Kita juga perlu bertanya, berapa banyak dari kita yang ikut kerja bakti saat ada program bersih sungai? Berapa banyak yang peduli saat ada pohon ditebang dan diganti bangunan beton? Jangan sampai, kita hanya pandai menuntut hak, tetapi lupa pada kewajiban.
Banjir harusnya menjadi momen untuk saling bantu, bukan saling olok. Harusnya menjadi saat untuk bersama-sama mencari solusi, bukan sekadar saling serang antar kelompok. Bahkan jika pun ada kelalaian dari pemerintah, kritik yang disampaikan pun harus berbasis data dan niat untuk perbaikan, bukan dendam atau motif politik.
Kembali ke Kota Sampang, ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari mereka. Di kota kecil itu, banjir sudah seperti bagian dari kalender tahunan. Mereka tahu, setiap musim hujan, air bisa datang dari hulu dan meluap ke pemukiman. Tapi alih-alih mengutuk nasib, mereka justru menyiapkan diri. Banyak warga yang telah memiliki perahu darurat, sandbag, dan sistem evakuasi mandiri. Mereka tidak panik, karena mereka paham akan kondisi tempat tinggal mereka.
Kepedulian sosial juga tinggi. Saat satu rumah tergenang, tetangga ikut membantu. Tidak hanya dalam bentuk tenaga, tapi juga dalam bentuk doa dan empati. Tidak ada yang mengejek, tidak ada yang membesar-besarkan. Mereka hidup berdampingan dengan risiko, dan itulah yang membuat mereka lebih tangguh.
Bandingkan dengan sebagian warga Sumenep, yang baru melihat genangan air di jalan sudah merasa harus menjadi korban, merasa harus diviralkan, seolah-olah layak mendapat simpati dunia. Ini bukan tentang siapa yang lebih menderita, tapi tentang siapa yang lebih bijak dalam menyikapi kenyataan.
Kita hidup di bumi yang terus berubah. Alam punya cara sendiri untuk mengatur keseimbangan. Kadang lewat hujan, kadang lewat gempa, kadang lewat angin besar. Semua itu tak bisa kita kontrol sepenuhnya. Yang bisa kita kontrol adalah sikap dan reaksi kita terhadapnya.
Sebagai masyarakat yang melek teknologi, mari gunakan media sosial sebagai alat edukasi dan solusi, bukan tempat mencaci dan mencibir. Kurangi drama, perbanyak data. Kurangi keluhan, perbanyak aksi. Jangan biarkan kebisingan netizen menutupi suara hati nurani dan tanggung jawab sosial.
Dan terakhir, mari belajar dari saudara-saudara kita di Sampang. Meski hidup dalam ancaman banjir rutin, mereka tetap tenang, realistis, dan saling mendukung. Tidak lebay, tidak menyalahkan siapa-siapa, dan tidak menjadikan banjir sebagai alasan untuk kehilangan akal sehat.
Karena sejatinya, banjir adalah bagian dari dinamika kehidupan. Ia bisa menjadi bencana, bisa juga menjadi berkah tergantung dari bagaimana kita memaknainya. Jangan sampai yang tergenang bukan hanya jalan, tapi juga akal dan sikap dewasa kita sebagai manusia.


