TERBITAN – Dalam dunia politik, ambisi adalah hal yang wajar. Namun yang menjadi persoalan adalah ketika ambisi itu berubah menjadi nafsu kekuasaan yang membabi buta. Ada cerita-cerita yang beredar di tengah masyarakat tentang pejabat yang demi kepentingan pribadi rela menghalalkan segala cara bahkan hingga menumbalkan tim suksesnya dalam perjanjian gaib dengan makhluk halus.
Mungkin bagi sebagian orang hal ini terdengar seperti mitos, sulit dibuktikan secara hukum, dan tak masuk akal di nalar modern. Tetapi realitas sosial di negeri ini tidak bisa dilepaskan dari kepercayaan terhadap hal-hal mistis. Tradisi, ritual, hingga praktik-praktik supranatural masih menjadi bagian dari dinamika kekuasaan, terutama ketika seseorang merasa jalur rasional tak lagi cukup untuk meraih jabatan.
Pertanyaannya bukan sekadar benar atau tidaknya praktik tersebut, melainkan mentalitas di baliknya. Ketika seorang pejabat lebih percaya pada perjanjian gaib dari pada kerja keras, integritas, dan doa yang tulus, di situlah krisis moral bermula. Kekuasaan yang diperoleh dengan cara kotor baik secara nyata maupun secara batin akan melahirkan kepemimpinan yang rapuh.
Lebih ironis lagi jika tim sukses yang telah berjuang siang malam justru dijadikan “tumbal” dalam makna apa pun: dikorbankan secara politik, ditinggalkan setelah menang, atau bahkan menjadi korban janji-janji kosong. Dalam konteks rasional pun, praktik “menumbalkan” tim sukses sering terjadi mereka dilupakan, tidak diakomodasi, bahkan disalahkan ketika ada masalah.
Publik mungkin tidak mampu membuktikan praktik perjanjian gaib itu secara kasat mata. Namun dampaknya bisa terasa: kebijakan yang tak berpihak pada rakyat, konflik internal, hingga runtuhnya kepercayaan publik. Kekuasaan yang diraih dengan cara gelap cenderung melahirkan keputusan-keputusan yang juga gelap.
Pada akhirnya, jabatan adalah amanah, bukan sekadar simbol prestise. Jika untuk meraihnya saja sudah menggadaikan moral, maka bagaimana mungkin rakyat berharap pada kebijakan yang bermartabat?
Kekuasaan boleh sementara. Tetapi konsekuensi baik secara hukum, sosial, maupun spiritual akan selalu mengikuti. Dan sejarah membuktikan, pemimpin yang menanam kegelapan pada awal langkahnya, akan menuai kegelapan pula di akhir masa jabatannya.
Oleh : Adimas Satrio Anom, S.I.Kom


