Opini Ditulis Oleh:

Safitri Eria Farhani

(Ketua KOPRI PC PMII Sidoarjo)

Sejarah mencatat, 10 November 1945 bukan sekadar pertempuran terbesar dalam sejarah revolusi Indonesia. Ia adalah titik kulminasi dari keberanian rakyat yang menolak tunduk pada penjajahan, bahkan ketika peluru dan bom menghujani Surabaya. Namun delapan dekade kemudian, penjajahan tak lagi berwujud bedil dan meriam. Ia menjelma menjadi ketimpangan struktural, eksploitasi ekonomi, dan pembungkaman terhadap suara kritis rakyat termasuk perempuan.

Hari Pahlawan seharusnya menjadi momen untuk bertanya, bukan sekadar mengenang. Apakah semangat perlawanan itu masih hidup dalam dada generasi muda hari ini? Apakah kader pergerakan, terutama kader KOPRI PMII, masih membawa idealisme perjuangan atau justru tenggelam dalam arus formalitas dan simbolisme organisasi?

Gerakan mahasiswa hari ini kerap terjebak dalam rutinitas administratif dan kompetisi posisi, sementara rakyat di luar sana terus bergulat dengan ketimpangan upah, kekerasan berbasis gender, dan ketidakpastian hidup. Di tengah situasi itu, kaderisasi seharusnya hadir sebagai ruang pembentukan kesadaran kritis bukan sekadar melahirkan aktivis yang piawai berpose, tetapi kader yang siap berpihak.

Bagi KOPRI, perjuangan perempuan bukan tentang berebut panggung, melainkan tentang membongkar akar ketidakadilan yang mengakar dalam sistem sosial. Ketika banyak pihak masih menempatkan perempuan sebatas simbol representasi, KOPRI harus menjadi garda yang melawan domestifikasi peran perempuan, bahkan di dalam tubuh gerakan itu sendiri.

10 November seharusnya menjadi alarm bagi kita semua, bahwa perjuangan belum selesai. Bahwa kolonialisme kini bersarang dalam kebijakan yang menindas rakyat kecil, dalam budaya yang meminggirkan perempuan, dan dalam sistem pendidikan yang kian menjauh dari cita-cita pembebasan.

Sebagai kader PMII, saya memaknai momen ini bukan sebagai akhir, melainkan awal tanggung jawab baru: menjaga agar api perlawanan tidak padam, memastikan agar kaderisasi PMII tetap menjadi alat perjuangan, bukan alat kepentingan.

Menjadi pahlawan hari ini bukan tentang gugur di medan perang, melainkan tentang bertahan di medan nilai. Tentang berani bersuara saat kebenaran dibungkam. Tentang terus bergerak, meski langkah seringkali dipatahkan.

*Tulisan opini di atas sepenuhnya merupakan tanggungjawab penulis dan bukan menjadi bagian tanggungjawab redaksi