Oleh: (Moch Thoriqil Akmal B, S.H)
OPINI, Terbitan.com – Setelah gema takbir Hari Raya Idulfitri perlahan mereda, masyarakat Madura tak lantas kembali pada rutinitas harian seperti biasa. Masih ada satu momentum penuh makna yang dinantikan, khususnya di daerah pesisir dan pedesaan yakni Hari Raya Ketupat. Perayaan ini jatuh satu minggu setelah Idulfitri, bertepatan dengan 8 Syawal dalam kalender Hijriyah. Namun, ketupat di Madura bukan sekadar penganan berbahan beras yang dibungkus janur; ia adalah simbol spiritual, perekat sosial, dan manifestasi dari budaya luhur yang telah bertahan selama ratusan tahun.
Hari Raya Ketupat di Madura kerap disebut sebagai Tellasan Topa’ (hari raya setelah puasa Syawal). Dalam pandangan masyarakat, ini adalah “lebaran kedua”, bentuk penghormatan dan peneguhan bagi mereka yang melanjutkan puasa enam hari setelah Idulfitri. Mereka yang menjalankan puasa ini diyakini akan mendapat pahala setara dengan puasa setahun penuh, sebagaimana dijelaskan dalam hadis Nabi Muhammad SAW.
Lebaran Ketupat bukan hanya tentang ibadah tambahan, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat Madura memaknai keberlanjutan spiritual. Jika Idulfitri menjadi hari kemenangan setelah sebulan penuh menahan hawa nafsu, maka Hari Ketupat adalah simbol konsistensi dan kesungguhan menjaga spirit Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari. Di sinilah makna yang lebih dalam dari ketupat mulai tampak.
Ketupat bukanlah makanan biasa. Di balik anyamannya yang rumit, terdapat pesan moral dan nilai-nilai kehidupan. Janur (daun kelapa muda) yang digunakan untuk membungkus ketupat melambangkan kesucian. Dalam bahasa Jawa, “janur” juga dimaknai sebagai ja-anur, artinya hati yang bersinar. Di Madura, janur melambangkan kesederhanaan dan keterikatan pada alam. Proses menganyam ketupat memerlukan ketekunan, kesabaran, dan ketelitian, nilai-nilai yang seharusnya tercermin dalam kehidupan masyarakat.
Bentuk ketupat yang simetris juga mengandung pesan harmoni dan keseimbangan antara dunia dan akhirat. Isinya, berupa nasi padat yang telah matang, menyimbolkan isi hati manusia yang telah bersih setelah Ramadhan. Dengan kata lain, ketupat adalah representasi dari pembersihan diri dan ketundukan kepada Tuhan, yang dirayakan bersama dalam ikatan sosial.
Di berbagai wilayah Madura, terutama di pesisir seperti Sumenep, Pamekasan, Sampang hingga Bangkalan, perayaan Hari Ketupat tidak bisa dilepaskan dari tradisi ketupatan yakni bersilaturahmi, membawa ketupat ke laut, atau melakukan ritual bersama di makam leluhur. Tradisi ini diwariskan secara turun-temurun, menjadi penanda bahwa Hari Ketupat adalah bagian dari siklus budaya, bukan sekadar pelengkap Idulfitri.
Salah satu ritual yang menarik adalah ngalap berkah dengan cara melarung ketupat ke laut. Biasanya dilakukan oleh para nelayan sebagai wujud syukur kepada Tuhan dan permohonan keselamatan di laut. Dalam upacara ini, para warga membawa ketupat, lepet, dan makanan lain ke pantai, lalu berdoa bersama sebelum menghanyutkan sebagian makanan ke laut. Ini bukan bentuk syirik, tetapi simbol dari kearifan lokal yang menyatu dengan iman. Mereka percaya, bahwa laut bukan hanya tempat mencari nafkah, tetapi juga alam yang memiliki ruh dan harus dihormati.
Di desa-desa pedalaman, Hari Ketupat juga dirayakan dengan tradisi makan bersama seluruh warga, saling berbagi makanan, dan menjaga silaturahmi. Tidak ada perbedaan antara si kaya dan si miskin, antara tokoh masyarakat dan rakyat biasa. Semua duduk dalam lingkaran yang sama, menikmati ketupat dengan lauk khas seperti opor ayam, sambal goreng hati, hingga sayur lodeh. Nilai-nilai gotong royong dan kebersamaan inilah yang menjadi esensi sejati dari Hari Ketupat.
Dalam konteks modernisasi dan globalisasi, Hari Ketupat menjadi semacam “penjaga nilai” di tengah arus budaya luar yang kian deras masuk. Tradisi ini menjadi benteng identitas masyarakat Madura bahwa mereka memiliki cara sendiri dalam merayakan religiositas dan kebudayaan. Ketika sebagian masyarakat mulai melupakan akar tradisi, perayaan ini menjadi pengingat bahwa budaya tidak hanya untuk dikenang, tetapi harus terus dihidupkan.
Namun, tak bisa dipungkiri bahwa Hari Raya Ketupat kini mulai mengalami pergeseran makna di beberapa wilayah. Tradisi yang awalnya sarat nilai spiritual dan sosial kini mulai bergeser menjadi ajang konsumsi dan pesta yang melupakan esensi. Ketupat dijadikan simbol estetika tanpa memahami filosofi di baliknya. Pasar menjual ketupat massal tanpa nilai gotong royong. Bahkan, beberapa daerah mulai meninggalkan tradisi ini karena dianggap kuno dan tidak relevan.
Komersialisasi budaya menjadi tantangan serius. Ketika perayaan lebih banyak diwarnai ajang pamer makanan atau tontonan semata, nilai-nilai seperti kesederhanaan, kepedulian, dan spiritualitas perlahan mengabur. Tradisi melarung ketupat pun mulai ditinggalkan karena dianggap tidak modern atau tidak masuk akal oleh generasi muda.
Hal inilah yang mestinya menjadi perhatian bersama baik oleh tokoh masyarakat, pemerintah daerah, maupun pelaku budaya. Jangan sampai Hari Ketupat hanya menjadi “kulit kosong” dari perayaan semu. Perlu ada upaya pelestarian yang serius dan terarah agar tradisi ini tetap hidup dalam ruh aslinya.
Generasi muda memiliki peran sentral dalam menjaga keberlangsungan tradisi Hari Ketupat. Mereka adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan. Jika mereka tercerabut dari akar budaya, maka lambat laun Hari Ketupat bisa menjadi sekadar cerita sejarah tanpa pelaku. Oleh karena itu, pendidikan budaya sejak dini sangat penting. Sekolah-sekolah perlu mengintegrasikan pelajaran tentang tradisi lokal dalam kurikulum, bukan hanya mengandalkan momen perayaan tahunan.
Media sosial juga bisa menjadi alat untuk mengangkat kembali nilai-nilai Hari Ketupat. Melalui konten yang kreatif dan edukatif, generasi muda bisa diajak untuk merayakan dengan cara baru tanpa meninggalkan esensi. Dokumentasi video, penulisan sejarah lokal, hingga pelatihan menganyam janur bisa menjadi bagian dari gerakan pelestarian budaya yang menyenangkan dan bermakna.
Hari Raya Ketupat di Madura bukan sekadar hari besar tambahan, bukan pula hanya ajang pesta perut. Ia adalah cermin dari nilai-nilai luhur masyarakat: spiritualitas yang berkelanjutan, solidaritas yang nyata, serta penghormatan pada budaya dan alam. Dalam setiap anyaman janur, terselip doa dan harapan agar hidup bisa lebih teratur, lebih ikhlas, dan lebih bermakna.
Dalam dunia yang serba cepat, perayaan seperti ini adalah momen untuk memperlambat langkah, merenungi makna, dan kembali pada akar. Di situlah kekuatan budaya lokal seperti Hari Ketupat: mengingatkan kita untuk tidak melupakan jati diri dalam pusaran zaman.
Maka, selama masih ada ketupat yang dianyam dengan tangan-tangan sabar, selama masih ada doa yang dilantunkan di tepian pantai, selama masih ada anak kecil yang tertawa di tengah riuh silaturahmi, selama itu pula Hari Ketupat akan tetap hidup bukan hanya di Madura, tetapi di hati kita semua.


