SEJARAH, Terbitan.com – Nama Pangeran Trunojoyo tidak hanya dikenal sebagai bangsawan Madura, tetapi juga sebagai tokoh legendaris yang mengguncang tatanan politik Jawa pada abad ke-17. Ia adalah simbol perlawanan rakyat terhadap kesewenang-wenangan Kesultanan Mataram dan pengaruh kuat VOC Belanda.

Pangeran Trunojoyo lahir sekitar tahun 1649 di Sampang, Madura. Ia merupakan putra dari bangsawan Madura, yaitu Raden Cakraningrat I, Adipati Madura Barat. Nasabnya juga memiliki darah biru dari Kesultanan Demak dan Cirebon, yang membuatnya dihormati sebagai keturunan bangsawan Islam yang terpandang.

Sejak kecil, Trunojoyo mendapat pendidikan agama dan keprajuritan. Ia tumbuh sebagai pemuda cerdas, pemberani, dan visioner. Kepekaannya terhadap kondisi sosial membuatnya resah dengan pemerintahan Mataram yang kala itu dipimpin oleh Sultan Amangkurat I, seorang raja yang dikenal represif terhadap rakyat dan bangsawan daerah.

Puncak ketegangan terjadi saat Amangkurat I melakukan pembersihan besar-besaran terhadap lawan politik dan bangsawan yang dianggap membangkang. Trunojoyo, yang menentang praktik ini, akhirnya memilih angkat kaki dari lingkungan istana dan mulai merancang perlawanan dari Madura.

Sekitar tahun 1674, Trunojoyo mulai menghimpun kekuatan. Ia membentuk aliansi militer dengan Karaeng Galesong, tokoh perantauan dari Makassar yang juga menentang kekuasaan VOC. Dengan pasukan campuran Madura-Makassar, Trunojoyo mulai menyerang wilayah pesisir utara Jawa Timur.

Dalam waktu singkat, ia berhasil merebut Gresik, Surabaya, dan Pasuruan. Keberhasilannya memperluas pengaruhnya dan menjadikan dirinya sebagai kekuatan baru yang diperhitungkan. Ia bahkan mendapat dukungan dari rakyat dan para bangsawan yang kecewa terhadap pemerintahan pusat.

Puncak kejayaan Trunojoyo terjadi pada tahun 1677 saat ia berhasil menyerbu dan merebut ibu kota Kesultanan Mataram di Plered. Sultan Amangkurat I melarikan diri dan meninggal dunia dalam pelarian. Kejatuhan Plered adalah prestasi luar biasa yang membuat Trunojoyo seolah menjadi raja tanpa mahkota di tanah Jawa.

Setelah keberhasilan ini, Trunojoyo mendeklarasikan dirinya sebagai raja dan membangun pemerintahan sendiri. Namun, kekuasaan barunya membuatnya menjadi musuh bersama antara VOC dan Amangkurat II, putra dari Amangkurat I yang didukung oleh Belanda untuk merebut kembali tahta Mataram.

VOC menganggap Trunojoyo sebagai ancaman besar terhadap stabilitas perdagangan dan kekuasaan politik mereka di Jawa. Maka, Belanda mengerahkan pasukan besar di bawah pimpinan Cornelis Speelman dan Anthonio Hurdt untuk menghancurkan pasukan Trunojoyo.

Serangan demi serangan dilancarkan ke wilayah kekuasaan Trunojoyo. Kota-kota penting seperti Kediri dan Trunajaya menjadi medan pertempuran sengit. Kekuatan Trunojoyo perlahan melemah akibat tekanan militer, politik, dan logistik yang terus menerus.

Akhirnya pada tahun 1679, Trunojoyo tertangkap di wilayah pegunungan Kediri setelah dikhianati oleh beberapa sekutunya. Ia diserahkan kepada Amangkurat II dan kemudian dieksekusi di Kartasura. Eksekusi dilakukan secara simbolis dengan cara yang mempermalukan, sebuah akhir tragis bagi seorang pejuang besar.

Setelah kematiannya, jenazah Trunojoyo tidak dibuang begitu saja. Ia dimakamkan dengan penghormatan di Bukit Kelurahan Asembagus, Kecamatan Bantaran, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Namun, banyak sumber menyebut makamnya yang paling dikenal berada di Desa Bukateja, Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo, yang kini menjadi situs ziarah sejarah.

Makam Pangeran Trunojoyo dijaga dan dirawat sebagai situs budaya. Banyak peziarah datang untuk mengenang perjuangannya. Di kalangan masyarakat Madura dan Jawa Timur, Trunojoyo tetap dikenang sebagai pahlawan pemberani yang tak gentar melawan ketidakadilan.

Warisan Trunojoyo bukan hanya terletak pada keberaniannya, tetapi juga dalam semangat perlawanan yang ia wariskan. Ia menginspirasi generasi setelahnya bahwa keberanian melawan penguasa lalim dan penjajahan merupakan panggilan suci untuk membela rakyat dan kebenaran.