Ambisi Kertanegara diwujudkan melalui ekspedisi-ekspedisi militer ke berbagai wilayah. Salah satu ekspedisi paling terkenal adalah Ekspedisi Pamalayu yang diluncurkan pada tahun 1275 M. Tujuannya adalah untuk menguasai bekas wilayah Sriwijaya di Sumatra dan menahan pengaruh kekaisaran Mongol.
Kertanegara juga mengirim pasukan ke Bali, Kalimantan, hingga Melayu. Ia berusaha menciptakan sebuah “Cakrawala Mandala” atau wilayah-wilayah di bawah pengaruh Singhasari secara langsung maupun tidak langsung, menyatukan kepulauan di bawah satu bendera.
Selain ekspansi militer, Kertanegara juga dikenal sebagai pendukung aliran Tantrayana, gabungan antara ajaran Hindu dan Buddha. Ia memerintahkan pembangunan banyak candi, seperti Candi Jawi dan Candi Singosari, yang menjadi bukti kejayaan kebudayaan Singhasari.
Di bidang politik luar negeri, Kertanegara menunjukkan keberanian luar biasa. Ketika utusan Kekaisaran Mongol dari Dinasti Yuan (Tiongkok) datang memintanya tunduk pada Kubilai Khan, Kertanegara menolak mentah-mentah dan justru menghina utusan tersebut dengan melukai wajah mereka.
Tindakan Kertanegara itu menciptakan ketegangan besar. Mongol menyimpan dendam dan merencanakan invasi besar ke Jawa. Namun sebelum serangan itu datang, Singhasari lebih dahulu mengalami keruntuhan dari dalam negeri sendiri.
Pada tahun 1292, Jayakatwang, seorang adipati dari Kediri yang merupakan keturunan Kerajaan Kediri yang lama, melancarkan pemberontakan besar. Ketika pasukan utama Kertanegara berada di luar wilayah, Jayakatwang menyerang istana dan membunuh Kertanegara.
Dengan kematian Kertanegara, runtuhlah Kerajaan Singhasari. Namun, riwayat kerajaan ini tidak berakhir begitu saja. Salah satu tokoh penting yang selamat dari kehancuran itu adalah Raden Wijaya, menantu Kertanegara.
Raden Wijaya berhasil melarikan diri dan bersembunyi. Tidak lama kemudian, pasukan Mongol yang dikirim Kubilai Khan tiba di Jawa untuk menghukum Kertanegara. Raden Wijaya melihat ini sebagai peluang untuk membalas dendam pada Jayakatwang.
Bekerja sama dengan pasukan Mongol, Raden Wijaya menggempur Kediri dan berhasil mengalahkan Jayakatwang. Namun setelah itu, ia berbalik menyerang pasukan Mongol dan mengusir mereka dari Jawa. Aksi cerdiknya ini membuka jalan lahirnya Kerajaan Majapahit pada tahun 1293.
Singhasari tidak hanya menjadi penghubung antara Kediri dan Majapahit, tetapi juga pelopor gagasan penyatuan Nusantara. Visi Kertanegara diteruskan oleh Majapahit, yang mencapai puncaknya di bawah Mahapatih Gajah Mada.



Tinggalkan Balasan