MADIUN,Terbitan.com – Sebilah besi yang masih bersuhu tinggi ditempa menggunakan palu. Dengan sabar Teguh Budi Santoso terus menempa besi tersebut. Warga Kedungpanji, Lembeyan, itu sudah sejak 2011 lalu menjadi penempa alias empu keris.
‘’Menjadi empu adalah tugas,’’ kata pria yang akrab disapa Empu Aji Guna Anom itu, Jum’at (22/92023).
Sebelum sang ayah tutup usia, Teguh diminta membuat dua bilah keris. Padahal, Teguh jarang diajari langsung cara membuat keris. Dia hanya melihat proses produksi yang dilakukan ayahnya.
‘’Dulu sempat diajari beberapa teknik, tapi masih belum tertarik,’’ ujar pria 38 tahun tersebut.

Teguh merasa memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan kiprah sang ayah sebagai empu keris. Lambat laun dia mulai menikmati pekerjaan barunya itu. Rupanya proses produksi setiap keris berbeda-beda.
‘’Ada yang sehari selesai, tapi ada juga yang sampai sewindu, tergantung kesulitan dan energi yang disalurkan,’’ ungkapnya.
Tak disangka karyanya mulai menemukan pasarnya sendiri. Teguh mengaku sudah menjual kerisnya hingga Malaysia, Singapura, bahkan Jerman. Namun, dia enggan menyebut harga keris karyanya. Menurut Teguh, keris perlu dilestarikan bukan semata karena barang bernilai seni.
‘’Bukan semata karya seni, tapi ada filosofi yang terkandung,’’ tuturnya.


