BOJONEGORO, terbitan.com – Aroma kedelai rebus menyeruak di salah satu ruang kelas Madrasah Tsanawiyah (MTs) Muhammadiyah 5 Al-Fajar, Kapas, Bojonegoro. Suasana tersebut menjadi bagian dari pelatihan membuat tempe yang melibatkan siswa dan guru sebagai upaya menumbuhkan keterampilan, kreativitas, serta jiwa kemandirian di bidang kuliner, Kamis (25/12/25).

Kegiatan yang berlangsung di lingkungan madrasah ini disambut antusias para peserta. Sejak awal pelatihan, siswa dibimbing untuk memahami proses pembuatan tempe secara menyeluruh, mulai dari pemilihan bahan baku, teknik perebusan dan perendaman kedelai, proses fermentasi, hingga tahap pengolahan akhir.

Tidak hanya menerima materi teori, para siswa juga terjun langsung mempraktikkan pembuatan tempe dengan pendampingan instruktur berpengalaman. Hal ini membuat pelatihan berlangsung interaktif dan aplikatif.

Kepala MTs Muhammadiyah 5 Al-Fajar, Choridj Agus Rifa’i, menyampaikan bahwa pelatihan tersebut dirancang agar keterampilan yang diperoleh siswa tidak berhenti di ruang kelas.

“Pelatihan ini kami harapkan bisa menjadi bekal keterampilan hidup. Tempe yang dihasilkan bisa dikonsumsi sendiri, dijual, atau diolah menjadi berbagai produk turunan. Ini berpotensi menjadi peluang usaha bagi siswa di masa depan,” ujarnya.

Sementara itu, Kasturi, selaku instruktur pelatihan, menjelaskan secara rinci aspek teknis pembuatan tempe. Ia menyampaikan bahwa proses pembungkusan tempe dapat menggunakan daun pisang maupun plastik, yang masing-masing memiliki kelebihan tersendiri.

“Yang terpenting adalah ketelatenan dan latihan berkelanjutan. Semakin sering dipraktikkan, hasil tempe akan semakin baik,” jelasnya.

Melalui pelatihan ini, pihak madrasah berharap siswa tidak hanya memiliki pengetahuan akademik, tetapi juga keterampilan praktis yang dapat menunjang kemandirian dan kreativitas sejak dini.

Penulis : Nilna Himawati